Makrab
#1
Malam ini, terasa sangat ramai ditemani dengan semilir angin yang cukup dingin. Villa mewah yang dinamai dari nama belakang Raja ini lebih mirip mansion daripada sekadar villa biasa. Bangunannya besar dengan tiga lantai, dikelilingi taman luas yang penuh bunga. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya hangat keemasan, membuat suasana terasa nyaman dan menyenangkan.
Di halaman belakang, kolam renang dengan ukuran besar jadi tempat paling ramai. Lampu bawah air membuat permukaannya berkilau seperti kaca. Teman-teman dari teknik itu sibuk bersorak dan bercanda, ada yang mengadakan lomba renang ala-ala dengan taruhan seikhlasnya sambil saling menyikut, ada juga yang cuma menciprat-cipratkan air, membuat orang di sekitar mereka basah kuyup. Setiap kali ada yang jatuh ke air, tawa pecah lebih keras, disusul teriakan penuh semangat yang ambisius.
Mereka menggoda teman-teman yang berusaha memanjat keluar dari kolam tetapi malah didorong lagi dengan penuh tawa. Berbagai macam bentuk gelas dimulai dari yang kecil hingga ujuran besar berisi minuman berserakan di pinggiran, sebagian sudah hampir kosong. Setiap percikan air yang besar membuat gelas-gelas itu sedikit oleng, hampir jatuh ke dalam kolam.
Di sudut taman, lampu gantung berbentuk lentera kecil menerangi beberapa bangku kayu. Di sana, mereka yang lebih suka obrolan santai berkumpul karena sudah puas bermain dengan air. Suara gitar yang dipetik pelan terdengar di antara canda dan tawa, menambah damai suasana. Harum bunga dan rumput yang basah karena embun membuat malam terasa sejuk dan segar.
Di dalam villa, ruang tengah yang luas penuh dengan berbagai aktivitas. Lantai marmer putih bersinar di bawah lampu gantung besar yang menggantung di langit-langit. Sofa-sofa empuk sudah penuh oleh orang-orang yang duduk dengan berbagai gaya—ada yang duduk biasa, ada yang setengah berbaring, dan ada juga yang tertidur dengan kaki melorot ke lantai.
Beberapa kelompok sibuk menonton film action di layar televisi. Setiap adegan seru membuat mereka bersorak, menirukan suara pukulan dengan gaya berlebihan. Di meja panjang di sisi ruangan, beberapa orang bermain kartu, bercanda, dan saling mengejek saat kalah. Bungkus camilan dan gelas-gelas kosong berserakan di mana-mana.
Di dekat area BBQ, aroma daging panggang memenuhi udara. Laskar dan Pratama sibuk mempersiapkan hidangan malam itu. Laskar menatap kesal ke arah Nusa yang seenaknya menuang bumbu. “Dih tolol, masa dimasukin semua?! Ga enak, njing!” protesnya dengan nada sengit.
Pratama hanya tertawa kecil, tetap santai menyelesaikan pekerjaannya. “Bener, pea! Gua chef di sini, udah lu diem aja.”
Laskar mendengus sambil kembali memotong bawang bombai yang sempat tertunda. Di sisi mereka, suara petikan gitar terdengar mengiringi malam. Patur memetik gitar dengan santai, sementara Nusa menyanyikan lagu penuh penghayatan.
“Beda kota… beda rasa… bukan masalahku~”
Nyanyian Nusa terpotong ketika Patur menghentikan petikan gitarnya. “Salah, bego, liriknya jangan lu ubah-ubah, gua laporin si baskara ye lu.” serunya sambil mengatur kembali jari-jarinya ke posisi kunci yang benar. “Cepet ulangin, yang bener Nus.”
Nusa mendecak kesal. “Yaela ribet bet lu, kagak usah serius-serius amat, cok. ngulang lagi bae pegel congor gua.” Tapi akhirnya dia tetap menyanyikan lagu Nina dari Feast dari awal lagi dengan nada ogah-ogahan.
“Tumbuh lebih baik—cari panggilanmu, azek.”
Sementara semua orang sibuk dengan keseruan mereka, Raja duduk santai tak jauh dari tempat BBQ, senyum-senyum sendiri menatap ponsel. Jemarinya lincah mengetik balasan, setiap pesan dari Noah membuat senyumnya semakin lebar.
“WOI JA! bantuin sini, enak aja lu nge-bucin sendirian.” teriak Laskar yang melihat Raja sejak tadi hanya duduk diam.
Raja mendongak dengan senyum lebar. “Bantu apaan? Udah gua kasih juga tuh daging wagyu, Kar.”
“YEH, bantu masak-nya lah, sepet mata gua liat lu duduk sambil cengar-cengir kek orgil.”
Menahan tawa, Raja berdiri dan berjalan santai menuju panggangan. “Iye bawel.” Dengan cekatan, dia mengambil alih penjepit dan mulai memanggang daging. Tangannya telaten membalik daging dengan gerakan terlatih, memastikan arang tetap menyala sempurna agar panasnya merata.
Setelah semua daging matang, mereka membawa hasil panggangan ke ruang tengah, di mana suasana sudah penuh oleh suara gelak tawa dan obrolan. Hidangan siap disantap. Raja berdiri di depan, meminta perhatian semua orang.
“Dengerin bentar!” katanya, suaranya tegas namun santai. Semua suara langsung mereda. “Gua, sebagai wakomting dan ketua pengganti makrab ini, mau ngucapin terima kasih buat kalian semua. Karena lu semua, acara ini bisa berjalan lancar dan bikin kita makin solid!”
Suaranya makin lantang saat melanjutkan, “Gua sama inti yang lain udah siapin makanan buat kita malam ini. Gua kaga mau ada yang kaga makan! kalau ada yang sok-sokan diet atau malu-malu, langsung ae cekokin sampe dia makan. Paham lu semua?!”
“PAHAAAMMM!” jawab mereka serempak, diselingi tepuk tangan dan sorakan riuh.
“Dan terakhir, makanan ini harus HABIS. Jangan sampe ada yang nyisa, respect sama song lead lu semua yang udah masakin.” lanjutnya dengan sedikit kekehan diakhir.
“SIAP, KETUA!” suara itu diiringi tawa gemuruh.
Raja tersenyum lebar. “Oke, sebelum makan, berdoa dulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai!”
Kepala-kepala tertunduk dalam hening sejenak. Setelah itu, Raja mempersilakan semua orang untuk makan. Suara sendok, garpu, dan tawa kembali memenuhi ruangan. Malam itu penuh dengan rasa kebersamaan yang hangat, cerita yang tak akan mereka lupakan, dan persahabatan yang semakin erat.
written by ca’jaemturii