jaemturii

cw//kissing 💋

Hari-hari berlalu, membawa waktu yang sejenak memudarkan ingatan tentang kemarin. Di tengah senyuman yang harus terlihat biasa, ada cerita yang tak tampak oleh mata. Sebuah kisah yang berjalan di batas antara yang tersembunyi dan yang nyata—seolah tak ada yang berubah, padahal banyak hal tak pernah sama.

Pilihan mereka, meski penuh tanda tanya, tetap menjadi langkah yang tak pernah disesali. Ada kekuatan yang hanya mereka pahami, satu bahasa yang berbicara lewat rasa, bukan kata. Cinta itu mungkin tak terlihat oleh sebagian orang, tapi tidak pernah kurang dari utuh. Jalan yang mereka tempuh mungkin tersembunyi di bayang-bayang, tetapi di sana mereka menemukan arti bertahan—di balik tangan yang saling menggenggam meski dunia tak pernah benar-benar tahu.

•••

Senyuman di wajah Raja tak kunjung pudar, sesaat setelah ia memarkir motornya di depan kost Noah, ia melepas helm dengan gerakan ringan, lalu jemarinya bergerak cepat di layar ponsel untuk memberitahu Noah agar segera turun.

‘udah dibawah cil’

Mereka memang sudah memiliki janji weekend ini—rencana sederhana yang mereka pikirkan untuk menghabiskan waktu bersama. Tak lama, Noah muncul dari pintu dengan langkah ringan, senyuman manis yang tak pernah hilang dari wajahnya. Cahaya matahari sore jatuh lembut di wajahnya, menciptakan kilau hangat yang cukup membuat dada Raja berdegup cepat—cantiknya.

“Kak! Mana helm buat aku??” Noah menyapa ceria dengan suara yang dipenuhi senyuman manis. “Ini, sayang.” Raja menyodorkan helm, lalu dengan lembut memakaikannya di kepala Noah, tangannya bergerak hati-hati seolah takut menyakiti sesuatu yang berharga. “Agak panas loh sore ini cil. Kenapa tadi nolak gua ajak naik mobil?” tanyanya sambil menurunkan footstep agar Noah lebih mudah naik ke motor.

“Engga panas kok, kan udah sore kakk.. Lagian kalo naik mobil, aku nanti engga bisa kaya gini.” Tanpa ragu, Noah melingkarkan tangannya di pinggang Raja dengan erat, penuh rasa memiliki. Raja menunduk, melihat tangan kecil itu memeluknya dengan pas—seolah jemari Noah diciptakan hanya untuk memeluk hangat di tubuhnya. Ia tersenyum kecil, mengangkat satu jemari Noah, menciumnya perlahan sebelum mengembalikannya ke tempat semula.

Noah hanya mampu menenggelamkan wajahnya ke punggung Raja, menikmati setiap momen itu. “Kakak… ayo jalan, ih.”
“Haha, iya, Cil. Pegangan, ya.”

Angin sore mulai menyapu wajah mereka. Jalanan yang ramai tak mampu mengusik percakapan penuh tawa yang terus mengalir. Mereka berbagi cerita tentang hari-hari yang mereka jalani, membuat waktu melambat sejenak dalam perjalanan itu.

Setibanya di tempat tujuan, Raja memarkirkan motor-nya dan melepas helm mereka. Dengan santai, ia menyodorkan lengannya untuk Noah genggam, dan mereka berjalan beriringan di taman yang rindang. Pepohonan besar memberikan keteduhan, sementara udara dipenuhi aroma kopi dari kafe-kafe kecil yang tersembunyi dibalik pepohonan.

Mata Noah tidak berhenti menelusuri penuh rasa kagum. “Kak, lihat deh! Ada bebek-bebekan, lucu bangettt kesitu yukk.” Ia menunjuk perahu bebek yang melayang tenang di permukaan air, dikayuh perlahan oleh pasangan-pasangan lain yang sedang menikmati sore.

“Mau naik itu?” Raja bertanya sambil melirik ke arahnya. Noah mengangguk antusias.
“Yaudah, kita naik itu dulu, ya? abis itu baru cari gelato.”

Mereka menikmati angin sejuk disore hari dengan mengayuh bersama dan saling melemparkan candaan, mencuri waktu di bawah langit yang mulai berwarna jingga, menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil yang penuh makna.

“KAKAK AKU TAKUT JATOHH.” teriak Noah cukup kencang karena Raja mengusili-nya dengan menggoyangkan badannya agar perahu bebek yang mereka naiki bergoyang sedikit. “Aman sayang, kan ada gua, tenang aja oke?” kekeh nya.

•••

Pasangan itu akhirnya puas menikmati waktu di atas perahu bebek, riak air yang mengiringi perjalanan mereka perlahan mereda saat kaki mereka kembali menjejak daratan. Sore semakin merona keemasan, dan langkah mereka berlanjut. Noah, dengan kamera di tangannya, sibuk memotret pemandangan dan hal-hal kecil yang menurutnya lucu—seorang anak berlari membawa balon, sepasang angsa di tepi danau, atau pantulan cahaya di permukaan air. Sesekali, ia berhenti sejenak, berdiri di atas batu untuk mendapatkan sudut pandang terbaik.

“Awas jatoh, Cil. Hati-hati” ujar Raja sambil sigap memegangi pinggang Noah, senyumnya penuh kesabaran.
“Nggaa akan kakak.” balas Noah tanpa menoleh, matanya masih fokus pada layar kamera, puas dengan hasil jepretannya yang terakhir.

“Cil, gelato tuh disana, yuk.” Raja menunjuk ke arah kedai yang mencolok dengan logo ice cream yang dibentuk seperti meleleh. Mereka berdua berjalan beriringan, langkah mereka santai, tangan yang selalu terikat menciptakan rasa hangat yang tak perlu diucapkan.

Begitu sampai di depan lemari kaca yang penuh dengan warna-warni rasa es krim, Raja membungkuk sedikit, matanya mengamati aneka pilihan yang ingin ia makan sore ini.
“Kakak, aku mau mint choco aja tuh, yang ituu.” ujar Noah sambil menunjuk rasa favoritnya dengan mata berbinar.
Raja hanya mengangguk tersenyum dan segera memesan dua cup gelato rasa mint choco, menyerahkan satu ke Noah sebelum mereka kembali ke luar.

Di bawah langit yang sudah berwarna jingga, Noah memotret es krim di tangannya dengan penuh antusias, sedangkan Raja—dengan usil—membuat gerakannya kacau agar hasil jepretannya menjadi buram.

“Diem dulu ih kakkk jadi jelek fotonyaa!” Noah mengerutkan dahi, nadanya setengah menggerutu. Tingkah itu justru membuat Raja tertawa lepas, lalu tanpa aba-aba ia menyendokkan sesendok es krim ke arah Noah.

“Nih, buka mulutnya, Sayang.”

Noah sempat membuka mulutnya, tetapi es krim dingin itu malah mendarat di pinggir bibirnya, berantakan dan menyisakan jejak manis di sana. “Kakk ih haha iseng banget sihh.” Noah tertawa kecil, hendak melanjutkan omelannya, namun sebelum kata-kata itu sempat keluar, Raja sudah lebih cepat membungkuk. Dengan sebuah ciuman singkat di ujung bibir, ia menjilat sisa es krim yang masih tertinggal dengan cepat.

Noah terdiam sejenak, wajahnya mulai memerah, tetapi tawa kecil yang meluncur dari bibirnya seolah menolak berpura-pura kesal. “Kakak.. rame tau.. aku malu..”

Mereka menghabiskan sore di antara rasa dingin gelato dan kehangatan yang membalut, dunia terasa lebih lambat, dan cara mereka untuk saling melengkapi membuat hadir dalam tawa, usikan kecil, dan rasa manis yang tak segera hilang.

•••

Perjalanan mereka terus bergulir, membawa mereka melintasi jalanan yang mulai diselimuti dingin malam. Cahaya lampu dari sudut-sudut jalan dan gedung-gedung tinggi ini seperti bintang buatan dimatanya, menciptakan pemandangan kota yang gemerlap. Noah tidak benar-benar tahu sejak kapan ia mulai menyukai momen seperti ini—ketika Raja membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah ia bayangkan, seperti malam ini.

Mereka berada di atas sebuah rooftop yang asing baginya. Udara malam berhembus kencang, menyapu wajahnya dengan kesegaran yang jarang ia temukan. Noah menarik napas dalam-dalam, membiarkan rasa damai mengisi dadanya, sementara pandangannya jatuh pada deretan mobil yang berderu di bawah, menjadi alur cerita kecil dalam hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur.

Raja datang dari belakang, membawa plastik berisi makanan ringan yang sempat ia beli. Ia menempatkan plastik itu di antara mereka di kursi panjang yang memandang langsung ke cakrawala. “Hey, nyaman banget kelihatannya. Adem, ya?” tanyanya dengan senyum kecil yang selalu terasa hangat.

“Hehe, adem banget, Kak. Aku suka.” Noah menoleh, matanya berbinar penuh rasa penasaran. “Kakak tahu dari mana tempat ini?”

“Dari Patur si.” jawab Raja santai, matanya sesekali menyapu pemandangan kota yang berkilauan di bawah mereka. “Waktu itu kita bingung gada ide mau geser ke mana lagi buat nongkrong. Terus Patur bilang aja ke rooftop langganannya. Katanya sering kosong, dan paling enak buat lihat city light kayak gini.”

Noah mengangguk, senyumnya ringan, sementara kamera di tangannya kembali sibuk mengabadikan setiap sudut malam yang terasa istimewa. Namun, ia segera menoleh begitu Raja memanggil namanya dengan lembut.

“Cil.”

“Hum? Kenapa, Kak?” jawab Noah, menurunkan kameranya.

Raja meraih tangannya perlahan, menautkan jemari mereka dengan gerakan yang terasa begitu intim, begitu tenang. Jemarinya hangat dan kokoh, menyatu dengan tangan Noah yang lebih kecil darinya. Ia menarik napas sejenak, membiarkan kata-kata yang sudah lama ingin diucapkannya keluar dengan pelan, tetapi penuh makna.

“Gua mau bilang makasih..” suaranya lembut dan dalam, “Maaf kalo gua terus-terusan bilang itu sampe lu bosen mungkin? tapi serius… gua bersyukur banget bisa ketemu manusia yang lebih mirip malaikat kayak lu.”

Noah, dengan bibirnya yang mengerucut lucu, menatap Raja dengan sorot bingung yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Ia tak tahu harus membalas bagaimana.

“Kakak…” suaranya bergetar pelan. “Kok tiba-tiba ngomong kayak gini, sih? Aku ngga apa-apa, kok. ngga perlu makasih terus. Aku sayang sama kakak, kan udah seharusnya aku ngerti dan support kakak.”

Raja tersenyum, mengangkat satu alis dengan tatapan penuh kasih. “Mungkin kalo waktu itu lu mutusin buat nyerah pacaran sama gua…” ia menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, “Gua ngga akan pernah bisa nemuin lagi orang kayak lu. Lu itu beneran kaya malaikat, Noah, lu baik, lucu, perhatian, cantik—eh, ganteng, maksudnya. Haha. Pokoknya, paket komplit deh.”

Noah tersipu, wajahnya memerah seperti senja yang malu-malu, dan tanpa bisa menahan diri, ia refleks menyenderkan wajahnya, menenggelamkannya ke dada Raja sambil memukul pelan dada-nya. “Apaan sih, kak… aku maluu tauu.. jangan ngomong gitu terus.”

Raja terkekeh pelan, suaranya rendah, dan dengan lembut ia menangkup pipi Noah. Jemarinya menyapu kulit hangat yang kini dihiasi rekahan merah muda. Ia mengecup kedua pipi itu, pelan, satu per satu, membuat Noah memejamkan mata, menunggu dengan detak jantung yang semakin kencang.

Dalam sunyi yang terisi oleh kuatnya desiran angin malam, Raja mendekatkan tubuh mereka, matanya terhenti tepat di bibir yang kini terlihat seperti buah ceri yang menyegarkan dan sangat memikat di depannya. Perlahan, ia menyentuhkan bibir dinginnya ke bibir lembab Noah, mencicipi rasa manis yang selalu membuatnya lupa dunia. Ia sesap, memberi lumatan kecil yang begitu dalam, seolah waktu berhenti untuk mereka.

Noah, dengan pasrah dan sadar membuka akses baginya. Bibir mereka saling mencari, saling melumat dan menyesap, membiarkan rasa bercampur tanpa batas. Tangannya melingkar erat di leher Raja, jari-jarinya meremas lembut tekuk leher itu, menahan seolah tak ingin kehilangan kehangatan yang tak tertandingi.

Saat tautan itu perlahan terlepas, udara malam kembali memenuhi paru-paru mereka. Saliva yang tertinggal adalah jejak kecil dari perasaan yang begitu besar. Mata Raja yang dalam bertemu dengan tatapan teduh Noah, penuh dengan cinta yang tak pernah bisa dirangkai hanya dengan kata.

Dengan suara rendah dan penuh ketulusan, Raja membisikkan segalanya dalam tiga kata.
“I love you, Noah Pramaja.”

Bahagia.

Akhir kisah yang paling bahagia adalah hal yang paling cocok untuk akhir kisah mereka. Malam telah menjadi saksi, angin yang berhembus lembut membawa jejak tawa dan rasa yang hanya mereka miliki.

Dunia di sekeliling mereka tetap berputar, sibuk dengan hiruk pikuknya sendiri, sementara di sudut kecil itu, di atas kota yang gemerlap, cinta mereka bertumbuh tanpa perlu diumbar atau dipertontonkan. Tidak ada kamera yang mengabadikan mereka, tidak ada pula status yang memperkenalkan hubungan mereka kepada dunia—namun cinta yang mereka miliki begitu nyata, begitu kuat, hingga dunia terasa kecil dan tak berdaya di hadapan mereka.

Orang mungkin berpikir cinta yang disembunyikan akan melemah dan memudar, bahwa tanpa sorotan dan pengakuan, ia akan hancur oleh keraguan. Tapi mereka membuktikan sebaliknya.

Cinta mereka bukan untuk divalidasi oleh orang lain, bukan untuk dipamerkan di media sosial, melainkan untuk dirasakan di setiap detak jantung dan hembusan napas yang mereka bagi bersama.

Mereka tahu bahwa cinta mereka bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh banyak orang, tetapi mereka tidak pernah butuh persetujuan siapa pun—karena mereka memiliki satu sama lain, dan itu sudah lebih dari cukup.

End—

#2

cw// harshword, drunk, alcohol, little fighting.

Setelah makan malam yang penuh gelak tawa dan suara piring beradu, semua kembali ke ruang tengah. Film yang sebelumnya ditonton kini sudah berganti dengan film komedi beradu dengan speaker kecil yang memasang lagu DJ-Tiktok yang belakangan ini sedang viral, tapi perhatian para penghuni Villa Arutal’s lebih banyak tertuju pada obrolan ringan dan candaan antar teman. Tumpukan bantal dan selimut bertebaran di lantai, sofa empuk penuh sesak oleh anak-anak teknik yang duduk berselonjor santai, sebagian rebahan dengan nyaman, dan sebagian lagi sibuk dengan handphone masing-masing.

Di salah satu sudut sofa, Raja duduk dengan nyaman, wajahnya diterangi cahaya ponsel. Jemarinya sibuk mengetik pesan untuk Noah, dan senyuman tipis sesekali terbit di bibirnya. Ia nyaris tidak peduli dengan suara tawa dan teriakan kecil di sekelilingnya. Noah sudah jadi dunianya malam itu.

dan ia menepati janjinya. Gelas yang berisi minuman hanya sekali-sekali ia cicipi, cukup untuk membaur tapi tidak sampai membuatnya hilang kendali. Ia lebih memilih tetap sadar, karena—ya, Noah sudah melarangnya untuk minum terlalu banyak.

Sementara itu, beberapa orang mulai menunjukkan tanda-tanda mabuk. Obrolan yang tadinya santai berubah menjadi lebih keras dan tidak karuan. Tawa semakin sering pecah tanpa sebab yang jelas. Di sudut ruangan, Banu duduk dengan gelas di tangannya, wajahnya sedikit memerah, matanya terlihat sayu. Ia bangkit dengan gerakan yang agak sempoyongan, menatap ke arah Raja yang masih sibuk dengan ponselnya.

“Gua… gua mau ngomong sama lu semua, dengerin gua!” serunya dengan suara keras, membuat suasana yang tadinya ramai jadi hening. Semua mata tertuju padanya.

“Kobam ni bocah.” ucap seseorang sambil terkekeh, berpikir bahwa ini hanya omong kosong anak mabuk.

Banu mengangkat gelasnya, matanya tak lepas dari Raja. “Gua pengen ngomong soal lu, Raja. Wakomting kita yang terhormat.”

Raja mendongak perlahan, alisnya terangkat, tapi ia tetap tenang. Ia sudah terbiasa dengan ledekan seperti ini. “Apaan, Nu?” tanyanya santai, kembali menatap layar ponselnya.

“Lu tuh kaga cocok jadi wakil ketua kita anjing ja.”

Ucapan itu langsung membuat suasana mencekam. Gelas-gelas yang tadinya diangkat kini diturunkan. Beberapa orang yang sudah setengah tertidur langsung terbangun berusaha mendengarkan dengan sadar, menegakkan tubuh mereka. Raja sendiri menurunkan ponselnya perlahan, memperhatikan Banu dengan ekspresi datar.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Banu tertawa kecil, tapi tidak ada humor di matanya. “Liat aja, Tiap kumpulan, lu ngilang. waktu kita lagi repot ngurus ni makrab, lu malah izin, apaan alasan lu izin pas itu? Pacaran, kan?” Matanya menyapu seluruh ruangan. “Pacaran dia bangsatt!” ulangnya, menekankan kata itu dengan nada mengejek. “Bukannya ngurusin kita, malah lebih milih jalan sama pacar. Wakil ketua apaan kaya gini hah?”

Beberapa orang tersentak. Sebagian terdiam, merasa tidak enak. Tapi ada juga yang mulai berbisik, membahas hal yang selama ini hanya jadi rumor di belakang. Suasana semakin panas.

Mendengar kalimat itu, Raja menurunkan ponselnya perlahan, meletakkannya di samping sofa tanpa membalas pesan terakhir dari Noah.

Ia menarik napas dalam-dalam, meneguk habis isi gelas yang entah kapan sudah ada di tangannya, rasa alkohol membakar tenggorokannya. Dengan gerakan santai, ia merenggangkan otot-otot leher, memutar kepalanya ke kiri dan kanan, bunyi retakan kecil terdengar jelas di keheningan yang mencekam.

Matanya kini tajam, sorotannya menusuk ke arah Banu. “Lu dapet info dari mana? Ada gua bilang kaya gitu?” suaranya rendah tapi penuh tekanan, membuat udara malam yang dingin terasa semakin menyesakkan. “Gua izin-nya sama lu waktu itu?”

Suasana di dalam villa kian mencekam. Tak ada suara kecuali desiran pelan dari pendingin ruangan. Beberapa orang mulai saling menyikut, membisikkan hal-hal yang tak ingin mereka katakan keras-keras.

“Tapi emang kenyataannya kaya gitu, kan, Ja?” Suara Kibow memecah keheningan. Ia berdiri di sisi Banu, menatap Raja dengan ekspresi serius. “Sebelum hari-H, lu tiba-tiba ngilang. Gua tanya, lu kemana? Nyari pacar lu, kan?” Ia menggeleng pelan, menyeringai.

“Kurang jelas, kah? Dari situ aja udah keliatan. Lu lebih mentingin pacar daripada kita.”

Banu, yang merasa mendapat dukungan, tersenyum miring. Ia melangkah maju, mendekat ke tengah ruangan, dadanya membusung penuh amarah. “Gua tanya sekarang sama kalian semua!” suaranya bergetar, penuh dorongan emosi. “Emang lu pada mau punya wakomting modelan begini? yang pacaran terus! yang ngilang waktu kita butuh!”

Suasana hening. Tidak ada yang langsung menjawab. Beberapa hanya saling bertukar pandang dengan ekspresi canggung, sementara yang lain mulai berbisik pelan. Banu menatap mereka dengan penuh emosi, frustrasi memuncak. “Jawab, anjing!” bentaknya, kemudian menendang pelan salah satu temannya yang rebahan di dekatnya, membuat orang itu terlonjak kaget.

Namun Raja tetap tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, ia bangkit dari tempat duduk dengan tenang, tubuhnya tinggi menjulang, memberikan aura dominan yang langsung memenuhi ruangan. Ia memandang semua orang yang hadir dengan tatapan yang sulit ditebak. Banu menatap balik, tapi kali ini ada sedikit keraguan di matanya.

Semua menunggu. Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang terasa seperti bom waktu.

“Terus lu maunya gimana?” tanya Raja, suaranya rendah tapi tegas, penuh tekanan yang langsung mengunci perhatian semua orang di ruangan itu. Pandangannya tajam menusuk ke arah Banu yang masih berdiri dengan napas tersengal.

Banu mengusap rambutnya dengan kasar, frustrasi. “Ya lu putus lah, anjing!” serunya penuh amarah. “Buktiin ke kita-kita kalo prioritas lu cuma kita di sini! kaga kebagi sama yang laen! Lu wakil ketua, Ja, bahkan sekarang adip lagi ngga bisa mimpin, dan lu sebagai ketua bukan orang yang bisa seenaknya pacaran di atas tanggung jawab!”

Mendengar itu, beberapa anak inti yang tahu betul soal hubungan Raja dan Noah langsung menegang. Mereka saling bertukar pandang, ekspresi tidak suka mulai terlihat jelas di wajah mereka. Mereka tahu, selama ini Raja tetap menjalankan tanggung jawabnya. Bahkan, villa megah tempat makrab ini adalah milik keluarganya, dan ia dengan tangan terbuka meminjamkannya tanpa syarat. Raja selalu ada untuk angkatannya, meskipun terkadang waktunya harus berbagi dengan Noah, tetapi itu bukan menjadi masalah besar yang harus diumbar seperti ini.

Dari pojok ruangan, suara kursi yang bergeser tiba-tiba memecah keheningan. Laskar, dengan mata tajam penuh kemarahan, berdiri tegak. Ia memandang Banu dengan ekspresi muak, gelas kosong masih di genggamannya. Meskipun ia sudah minum banyak malam itu, kesadarannya masih utuh, dan suaranya penuh amarah yang tak terbendung.

“Lu ngga punya hak, bangsat!” teriaknya lantang, membuat beberapa orang tersentak. Ia melangkah maju, mendekat ke tengah ruangan. “Selama ini lu udah kontribusi apaan gua tanya?” tatapannya tajam, seperti bara yang menyala. “Lu pernah bikin apa buat kita selain banyak ngomong? Lu disini numpang anjing, lu pikir minuman yang lu minum dari siapa ngentot?! Raja anjing, Raja yang nyiapin ini semua, Terus sekarang lu seenaknya ngatur dia? Lu pikir lu siapa?”

Ruangan itu memanas. Bisikan berubah menjadi dengusan marah, beberapa anak menggeleng dengan tegas menolak ucapan Banu, sementara yang lain diam, menunduk, mencoba mencerna setiap kata yang terlontar. Suasana berubah kikuk, udara malam yang dingin justru terasa semakin menyesakkan.

“Kok lu marah?” ejek Banu, suaranya penuh tantangan. “Gua cuma ngomong apa yang gua liat. kaga boleh? Gua punya hak kan? gua juga punya hak buat ngomong gini klo lu lupa.” Ia melanjutkan dengan nada lebih menusuk, “Gua ngomong gini biar wakomting lu pad sadar. Dia dikasih tanggung jawab gede, jangan seenaknya.”

Tawa pelan dan penuh sindiran memecah keheningan. Dari sudut ruangan, Patur bertepuk tangan keras-keras, suara tepukannya menggema, menarik perhatian semua orang. Ia bangkit dari tempat duduk dengan senyum mengejek yang melekat di wajah.

“Lah, kenapa pada diem? Tepuk tangan dulu buat Banu woi, keren banget, kan? Yuk, applause dulu applause!” katanya sambil terkekeh. “Udah puas? Ada lagi ngga yang mau lu omongin, Nu? Congor lu masih mau ngebacot kaga, bangsat?” Suara Patur meninggi, membuat beberapa orang tersentak.

Banu menelan ludah, tapi tetap bertahan. “Gua cuma ngomong sesuai fakta. kaga ada yang salah, kan?”

Patur mendengus, matanya membara. “Lu tau kaga tujuan makrab itu apa, hah? Tadi gede congor lu. Jawab!” bentaknya.

Raja tetap diam di tempatnya, matanya menyipit, mengamati setiap gerakan dan perkataan Banu. Ia ingin melihat seberapa jauh Banu berani mengutarakan semua pikirannya.

“Makrab itu buat ngejaga kebersamaan. Bukan buat ngerusak. Kalau lu ngerti soal tanggung jawab, lu ngga bakal bikin ribut di sini!” Patur meraih kerah Banu dengan satu tangan, menariknya mendekat dengan tatapan penuh amarah.

Mata Banu bergetar, tapi ia tetap memaksakan wajah penuh percaya diri. “Justru ini waktu yang paling pas buat ngomong, Tur. Lu pikir gua bakal diem terus?” desisnya, suaranya sedikit bergetar.

“Terus, mau lu apa sih anjing, sebenernya?” tanya Patur, giginya beradu.

“Mau gua? Mau gua—RAJA PUTUS SAMA PACAR NYA, ANJING!” teriak Banu, suaranya menggema memenuhi ruangan.

Bugh.

Pukulan Patur melayang tepat ke pipi Banu, membuat tubuhnya tersentak namun belum cukup kuat untuk membuatnya goyah.

“Lu pikir lu siapa?” geram Patur, suaranya rendah tapi bergetar penuh amarah. “Lu kaga punya hak ngomong itu, bangke!”

Banu sedikit terhuyung, tapi tetap berdiri, menunggu pukulan berikutnya. Patur sudah mengangkat tangannya lagi saat sebuah suara rendah dan tegas memotong emosi yang membara.

“Berhenti.”

Satu kata sederhana, tapi penuh otoritas. Raja mulai berbicara. Suaranya mengalir dengan tenang, tapi memancarkan kekuatan yang tak bisa dibantah.

“Lepasin, Tur. Ngga ada yang gua bolehin main tangan di sini.” lanjut Raja, matanya menatap langsung ke Patur.

Patur masih mematung dengan tangan terangkat, matanya menyipit bingung.

“Gua bilang, berhenti.” ulang Raja, lebih keras.

Akhirnya, Patur melepaskan genggamannya dengan napas berat, lalu melangkah mundur. Ia duduk kembali, meski dadanya masih bergemuruh dengan amarah yang tertahan.

Ruangan itu kembali sunyi. Semua orang menunggu, bahkan hanya untuk bernapas. Raja menenangkan dirinya sejenak sebelum akhirnya berdiri, menatap mereka satu per satu dengan penuh ketenangan.

“Gua jelasin di sini, sekarang.” ucapnya pelan, tapi jelas. “Gua ngga ada hubungan sama siapa-siapa. Gua cuma pengen malam ini kita bikin makrab yang seru. Kita di sini buat kekuatan buat ngebangun solidaritas, bukan buat ribut ngga jelas. Kalau ada masalah sama gua, bilang langsung ke gua. Jangan bikin suasana rusak.”

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Lu ngga perlu khawatir, Banu. Gua ngerti tanggung jawab gua. Dan makasih buat teguran lu. Lanjut, jangan ada yang ngerusuh lagi sebelum acara makrab ini kelar.”

Setelah ucapannya selesai, Raja meraih ponsel dan membawa satu botol minuman di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan ke arah kamar, meneguk semua minumannya hingga tandas. Kepalanya terasa berat, pikirannya melayang jauh, entah ke mana.

Ia hanya tidak bisa berhenti berpikir akan satu hal, Noah-nya.

by ca’jaemturii

#1

Malam ini, terasa sangat ramai ditemani dengan semilir angin yang cukup dingin. Villa mewah yang dinamai dari nama belakang Raja ini lebih mirip mansion daripada sekadar villa biasa. Bangunannya besar dengan tiga lantai, dikelilingi taman luas yang penuh bunga. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya hangat keemasan, membuat suasana terasa nyaman dan menyenangkan.

Di halaman belakang, kolam renang dengan ukuran besar jadi tempat paling ramai. Lampu bawah air membuat permukaannya berkilau seperti kaca. Teman-teman dari teknik itu sibuk bersorak dan bercanda, ada yang mengadakan lomba renang ala-ala dengan taruhan seikhlasnya sambil saling menyikut, ada juga yang cuma menciprat-cipratkan air, membuat orang di sekitar mereka basah kuyup. Setiap kali ada yang jatuh ke air, tawa pecah lebih keras, disusul teriakan penuh semangat yang ambisius.

Mereka menggoda teman-teman yang berusaha memanjat keluar dari kolam tetapi malah didorong lagi dengan penuh tawa. Berbagai macam bentuk gelas dimulai dari yang kecil hingga ujuran besar berisi minuman berserakan di pinggiran, sebagian sudah hampir kosong. Setiap percikan air yang besar membuat gelas-gelas itu sedikit oleng, hampir jatuh ke dalam kolam.

Di sudut taman, lampu gantung berbentuk lentera kecil menerangi beberapa bangku kayu. Di sana, mereka yang lebih suka obrolan santai berkumpul karena sudah puas bermain dengan air. Suara gitar yang dipetik pelan terdengar di antara canda dan tawa, menambah damai suasana. Harum bunga dan rumput yang basah karena embun membuat malam terasa sejuk dan segar.

Di dalam villa, ruang tengah yang luas penuh dengan berbagai aktivitas. Lantai marmer putih bersinar di bawah lampu gantung besar yang menggantung di langit-langit. Sofa-sofa empuk sudah penuh oleh orang-orang yang duduk dengan berbagai gaya—ada yang duduk biasa, ada yang setengah berbaring, dan ada juga yang tertidur dengan kaki melorot ke lantai.

Beberapa kelompok sibuk menonton film action di layar televisi. Setiap adegan seru membuat mereka bersorak, menirukan suara pukulan dengan gaya berlebihan. Di meja panjang di sisi ruangan, beberapa orang bermain kartu, bercanda, dan saling mengejek saat kalah. Bungkus camilan dan gelas-gelas kosong berserakan di mana-mana.

Di dekat area BBQ, aroma daging panggang memenuhi udara. Laskar dan Pratama sibuk mempersiapkan hidangan malam itu. Laskar menatap kesal ke arah Nusa yang seenaknya menuang bumbu. “Dih tolol, masa dimasukin semua?! Ga enak, njing!” protesnya dengan nada sengit.

Pratama hanya tertawa kecil, tetap santai menyelesaikan pekerjaannya. “Bener, pea! Gua chef di sini, udah lu diem aja.”

Laskar mendengus sambil kembali memotong bawang bombai yang sempat tertunda. Di sisi mereka, suara petikan gitar terdengar mengiringi malam. Patur memetik gitar dengan santai, sementara Nusa menyanyikan lagu penuh penghayatan.

“Beda kota… beda rasa… bukan masalahku~”

Nyanyian Nusa terpotong ketika Patur menghentikan petikan gitarnya. “Salah, bego, liriknya jangan lu ubah-ubah, gua laporin si baskara ye lu.” serunya sambil mengatur kembali jari-jarinya ke posisi kunci yang benar. “Cepet ulangin, yang bener Nus.”

Nusa mendecak kesal. “Yaela ribet bet lu, kagak usah serius-serius amat, cok. ngulang lagi bae pegel congor gua.” Tapi akhirnya dia tetap menyanyikan lagu Nina dari Feast dari awal lagi dengan nada ogah-ogahan.

“Tumbuh lebih baik—cari panggilanmu, azek.”

Sementara semua orang sibuk dengan keseruan mereka, Raja duduk santai tak jauh dari tempat BBQ, senyum-senyum sendiri menatap ponsel. Jemarinya lincah mengetik balasan, setiap pesan dari Noah membuat senyumnya semakin lebar.

“WOI JA! bantuin sini, enak aja lu nge-bucin sendirian.” teriak Laskar yang melihat Raja sejak tadi hanya duduk diam.

Raja mendongak dengan senyum lebar. “Bantu apaan? Udah gua kasih juga tuh daging wagyu, Kar.”

“YEH, bantu masak-nya lah, sepet mata gua liat lu duduk sambil cengar-cengir kek orgil.”

Menahan tawa, Raja berdiri dan berjalan santai menuju panggangan. “Iye bawel.” Dengan cekatan, dia mengambil alih penjepit dan mulai memanggang daging. Tangannya telaten membalik daging dengan gerakan terlatih, memastikan arang tetap menyala sempurna agar panasnya merata.

Setelah semua daging matang, mereka membawa hasil panggangan ke ruang tengah, di mana suasana sudah penuh oleh suara gelak tawa dan obrolan. Hidangan siap disantap. Raja berdiri di depan, meminta perhatian semua orang.

“Dengerin bentar!” katanya, suaranya tegas namun santai. Semua suara langsung mereda. “Gua, sebagai wakomting dan ketua pengganti makrab ini, mau ngucapin terima kasih buat kalian semua. Karena lu semua, acara ini bisa berjalan lancar dan bikin kita makin solid!”

Suaranya makin lantang saat melanjutkan, “Gua sama inti yang lain udah siapin makanan buat kita malam ini. Gua kaga mau ada yang kaga makan! kalau ada yang sok-sokan diet atau malu-malu, langsung ae cekokin sampe dia makan. Paham lu semua?!”

“PAHAAAMMM!” jawab mereka serempak, diselingi tepuk tangan dan sorakan riuh.

“Dan terakhir, makanan ini harus HABIS. Jangan sampe ada yang nyisa, respect sama song lead lu semua yang udah masakin.” lanjutnya dengan sedikit kekehan diakhir.

“SIAP, KETUA!” suara itu diiringi tawa gemuruh.

Raja tersenyum lebar. “Oke, sebelum makan, berdoa dulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai!”

Kepala-kepala tertunduk dalam hening sejenak. Setelah itu, Raja mempersilakan semua orang untuk makan. Suara sendok, garpu, dan tawa kembali memenuhi ruangan. Malam itu penuh dengan rasa kebersamaan yang hangat, cerita yang tak akan mereka lupakan, dan persahabatan yang semakin erat.

written by ca’jaemturii

Seperti biasa, setelah kelas usai, Raja punya janji untuk berkumpul bersama teman-temannya di tongkrongan belakang, tepatnya di belakang fakultas teknik. Tempat itu sudah seperti markas tak resmi mereka—di sanalah suara tawa dan keluh kesah bercampur, di sanalah cerita lelah berubah menjadi guyonan yang memecah penat.

Bagi mereka anak teknik mesin, tempat itu adalah kawasan sakral yang selalu ramai oleh obrolan tentang tugas, proyek, atau sekadar perdebatan siapa yang punya cara paling cerdas memecahkan persoalan hidup. Namun, sore ini terasa sedikit berbeda untuk Raja. Sebagai wakil ketua angkatan, dia tahu benar tanggung jawab yang kini bertambah berat di pundaknya.

Adip, sang ketua angkatan, baru saja mengalami kecelakaan yang membuatnya harus absen untuk sementara waktu. Tugas memimpin makrab, yang seharusnya menjadi tanggung jawab Adip, kini jatuh sepenuhnya ke tangan Raja. Bukan hanya peran tambahan—tapi juga ekspektasi, sorotan, dan tekanan yang tak bisa dihindari.

Raja sadar bahwa ini adalah waktunya untuk membuktikan bahwa dia bisa diandalkan. Dia harus mengendalikan situasi, memimpin dengan kepala dingin, dan memastikan semuanya berjalan lancar.

Kali ini bukan cuma soal nongkrong dan bercanda seperti biasanya—ini soal memperlihatkan bahwa dia layak untuk memegang peran itu atau tidak, setidaknya sampai Adip bisa kembali. Dan meski pikirannya masih setengah terikat pada kejadian malam sebelumnya dengan Noah, dia tau benar tanggung jawab yang tetap harus didahulukan.

Setelah mengantarkan Noah dengan aman sampai kost-nya, Raja segera melangkah keluar dari area kos Noah, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, seolah ingin melepaskan semua beban yang menumpuk sejak tadi malam. Ia menatap jam di pergelangan tangannya—sial, udah hampir jam enam. Meski sudah bergegas, waktu tetap saja terasa melesat.

Begitu sampai di motor, ia sempat melirik layar ponselnya yang dipenuhi notifikasi dari grup angkatannya. Beberapa pesan terakhir membuatnya menghela napas panjang lagi.

Perjalanan menuju tongkrongan malam itu terasa lebih cepat dari biasanya bagi Raja, meski setiap detiknya seperti menambah beban berat di punggungnya. Angin dingin yang berembus saat ia menyusuri jalan kecil di atas motornya tak cukup untuk mendinginkan pikirannya.

Sesampainya di depan warung sederhana yang biasa disebut tongkrongan belakang—tempat ia dan teman-temannya berkumpul. Ia segera memarkirkan motornya dan berjalan lambat kearah teman-temannya yang sudah menunggu, seakan-akan sedang menunda sesuatu yang tak bisa ia hindari.

Warung itu ramai seperti biasa. Lampu yang sedikit temaram menciptakan suasana hangat, kontras dengan malam yang mulai mendingin. Tawa dan obrolan riuh mahasiswa, yang mayoritas-nya adalah anak teknik, terdengar jelas. Mereka bergerombol dalam kelompok kecil, duduk di bangku panjang atau bersandar santai sambil menyeruput kopi. Suara yang sudah akrab di telinganya membuncah dalam bentuk ejekan dan candaan.

“Widih, ketua kita dateng juga nih.” seru Banu dengan nada yang sengaja dibuat menonjol, seakan mengundang perhatian semua orang di sana.

Raja hanya menoleh sekilas. Dia mengenal Banu lebih baik dari yang ingin diakuinya—seorang teman seperjuangan yang dulunya menjadi lawan dalam pemilihan ketua angkatannya. Hubungan mereka memang lebih kompleks dari sekadar ikatan pertemanan biasa. Tanpa menjawab, Raja melangkah melewati Banu dan langsung duduk di lingkaran inti. Ia memilih tempat di tengah-tengah, posisi yang memberinya ruang untuk mengamati sekaligus memimpin percakapan.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menghilangkan sisa rasa canggung yang tertinggal sejak memasuki tongkrongan. “Jadi, kemarin gimana? Udah ditentuin soal konsum sama kendaraan?” tanyanya, membuka diskusi dengan nada serius yang sudah biasa.

Laskar, yang kemarin sempat menjadi pemimpin kelompok perencanaan, menegakkan tubuh dan langsung menjawab. “Iya, kemarin udah fix ja. Kita bakal tetep sewa elf. Satu elf si kayaknya cukup, sisanya konvoi naik motor. si Patur bilang dia punya kenalan buat nego harga sewa. Nah buat konsum, kita sepakat kolekan, tiap orang bawa dua bungkus mie atau lebih. Sisa uang kolekan buat beli beras. Kan cuma semalam doang, pasti cukup.”

Raja mengangguk, matanya menyapu wajah-wajah di sekitarnya. “Oke, kalau gitu gua bawa mobil, soal konsum juga gua bakal nambahin nanti jadi aman. Soal acara, kemarin gua udah bikin rundown. Karena hari Sabtu jalan Puncak ada ganjil-genap, ya yang naik motor aman, tapi elf-nya mending jangan lewat jalan utama. Kalau mau, bisa berangkat pagi sebelum ditutup.”

Obrolan mulai terys bergulir dengan saran dan pendapat yang saling dilontarkan. Mereka berbicara soal rute perjalanan, waktu keberangkatan, dan detil acara untuk hari H. Sebagian teman terlihat serius mendengarkan, sementara yang lain sesekali melemparkan candaan. Namun, suasana tetap fokus hingga akhirnya Raja memutuskan untuk merangkum pembicaraan.

“Oke, kita sepakatin kaya gitu ya. Buat tikum tetep diparkiran FT, Laskar mimpin jalan buat yang convoi, Nusa sama Patur bagian jaga belakangan, gua bakal bareng elf nanti.” katanya, sambil melirik jam tangan yang menunjukkan pukul satu dini hari.

Sesaat, pikirannya mulai berkelana ke nama yang sudah memenuhi benaknya sejak sore tadi. Noah. Namun, lamunannya segera terputus ketika Banu, dengan suara khasnya yang tak pernah ia abaikan, kembali angkat bicara.

“Ngomong-ngomong, kemarin lu kemana, Ja? Pulang cepet banget.” tanya Banu dengan nada setengah mengejek, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.

Raja menoleh perlahan, mengatur responsnya dengan hati-hati. “Sebelumnya gua mau minta maaf sama lu semua. Kemarin gua bener-bener ada urusan mendadak. Panik gua, makanya ngga sempet pamitan.”

Beberapa teman mengangguk, menerima penjelasan itu tanpa banyak bertanya. Namun, Banu tetap duduk dengan tatapan menyelidik yang sulit diabaikan.

“Urgent banget?”

“Ya, kalo ngga urgent, gua nggak bakal ninggalin kalian gitu aja nu.” jawab Raja dengan nada datar, tetap tenang meski dadanya terasa sedikit sesak.

Banu menyunggingkan senyum tipis. “Oh, ya gua percaya aja si. Cuma kasian aja, kepala kumpulannya malah pulang duluan.”

Ejekan itu diiringi tawa kecil yang membuat beberapa teman ikut tergelitik. Tapi Raja tetap tak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia hanya menghela napas pelan, pandangannya tertuju pada lantai semen yang dingin di bawah kakinya.

Setelah beberapa saat, Banu dan kawannya mulai berpamitan. Mereka menepuk pundak teman-teman lain sambil melontarkan ucapan selamat tinggal dengan nada guyon. Ketika tiba gilirannya untuk tos dengan Raja, Banu sedikit membungkuk, menyeringai kecil dengan gumaman yang terdengar samar namun jelas sembari menepuk pundak Raja.

“Pacar lu termasuk urgent?”

Meski pelan, gumaman itu seperti tertuju langsung ke hatinya. Raja tetap tak bereaksi selain menarik napas dalam-dalam. Matanya mengikuti punggung Banu yang perlahan menghilang dalam kegelapan malam. Kali ini, tak ada yang perlu ia katakan—karena beberapa hal lebih baik disimpan sendiri.

—written by jaemturii

cw// Fighting, blood.

Noah merasakan tarikan kuat di pergelangan tangannya, tubuhnya terhuyung ke belakang. Refleks pertahanan diri yang tertanam selama bertahun-tahun langsung bangkit tanpa bisa ia tahan. Ia memutar tubuh dengan cepat, tinjunya melayang ke arah wajah orang yang menahannya.

Bugh.

Terdengar suara pukulan yang keras dan berat. Sosok di depannya mundur selangkah, mengangkat tangan ke pipi yang memerah.

Noah terengah-engah, matanya membelalak melihat hasil pukulannya. Seketika ia terpaku, tubuhnya kaku seperti membeku. “Keenan?”

Keenan mendongak perlahan, wajahnya setengah meringis sambil memegangi rahangnya. Tatapan matanya penuh rasa sakit yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan, tetapi ia masih sempat membenarkan topi yang hampir jatuh dari kepalanya.

Ia menyeringai kecil, ujung bibirnya berdarah, jarinya menyentuh tetes merah itu seolah-olah menganggap itu hal sepele, seperti pria yang menertawakan rasa sakitnya sendiri. “Hey, it’s me… again.”

Noah mundur selangkah, memperlebar jarak di antara mereka. Ia menatap Keenan dengan tatapan tajam penuh kekesalan, “Mau apa lagi, sih? Jadi selama ini, aku ngerasa diikutin kemana-mana, itu ulah kamu?” Nada suaranya meninggi, tegas dan penuh tuntutan.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang sama yang terus bergema, ‘Bukankah kemarin semuanya sudah jelas? Ia sudah mengakhiri semuanya, tidak ada lagi ruang untuk masa lalu yang menyakitkan itu.’

“Hey.. hey, dengerin aku dulu, Noah…” Keenan melangkah maju sedkit, tangannya terangkat pelan seolah mencoba meredakan suasana. Suaranya rendah dan lembut, seperti bisikan dari memori yang pernah membuat Noah lemah. “Aku tahu kesalahan aku udah bikin kamu kecewa. But trust me… I’ll change, okay? For you.”

Noah menggeleng pelan, matanya penuh penolakan yang dingin. “I said enough. Kamu baca ngga sih omongan aku di chat kemarin? Aku mutusin kamu bukan cuma karena kamu selingkuh. Aku capek, Keenan. Capek sama kamu.”

Keenan menggeleng dengan gerakan pelan, menolak realitas yang ada di hadapannya. Tatapannya penuh keyakinan yang keras kepala. “No, please.. I can’t. Kamu bisa kasih aku satu kesempatan lagi, Noah. Aku beneran ngga bisa pisah dari kamu. Keluarga kamu juga udah tahu hubungan kita…”

Noah tertawa kecil, tapi nadanya getir. Senyum itu dingin dan penuh jarak. “Mereka ngga akan merasa dirugiin juga, K. They won’t give a damn.” Kalimat itu ia lontarkan dengan santai, seolah perasaan Keenan adalah omong kosong yang tak perlu dihiraukan.

“Lagian aku udah punya pacar. Dia sayang sama aku. Dia bisa jaga aku, dan tentunya dia ngga kayak kamu.” Noah menatap lurus ke mata Keenan, membiarkan kata-katanya menusuk tanpa ampun. “Kamu jahat sama aku.”

Seolah tidak peduli dengan ketegasan itu, Keenan dengan berani meraih kedua tangan Noah. Menggenggamnya dengan erat, penuh rasa putus asa yang menggema di suaranya. “Yakin dia sayang sama kamu? Aku udah cek semua tentang dia. Aku juga sempat stalk semua akun dia. Dan ngga ada tuh satu pun foto kamu di sana.” Keenan mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Beda sama aku, Noah. Aku selalu post foto kamu. Semua orang tau kalo kamu itu bagian dari hidup aku.”

Detik itu, rasa panas menyelimuti tubuh Noah. Bukan panas karena sakit hati, tpi karena amarah yang membakar. Bukan tentang bagaimana Raja tidak memajang fotonya di media sosial, tapi karena Keenan berani merendahkan seseorang yang ia cintai—seseorang yang jauh lebih baik dari orang yang kini berdiri di hadapannya.

Dengan sekuat tenaga, Noah berusaha melepaskan cengkeraman tngan Keenan di pergelangannya. Jemarinya menggeliat, menolak, tetapi cengkeraman itu seperti belenggu. “Lepas.” suaranya tegas, penuh kemarahan yang tertahan.

Keenan tetap kukuh. Matanya menatap Noah dengan kepedihan yang membara, tetapi suaranya penuh keposesif-an yang mengerikan. “Dia ngga sayang kamu, Noah. Dia cuma main-main sama kamu. Please, kasih aku satu kesempatan lagi, No—”

Bugh.

Kata-katanya terpotong. Sebuah tinju melayang cepat dan keras menghantam rahangnya, membuat kepalanya terhempas ke samping.

“Dia bilang lepas, brengsek. Lu tuli?” Suara berat dan tajam itu mengiris malam yang dingin.

Noah terperanjat, menoleh cepat, dan di sana berdiri Raja. Mata Raja menyala penuh amarah, rahangnya mengeras, seolah seluruh tubuhnya adalah bara yang siap meledak.

Tangan kokohnya sudah meraih kerah Keenan, menariknya dengan cengkraman yang begitu kuat hingga napas Keenan tertahan sesaat. Tatapan Raja seperti tantangan yang tak terbantahkan seolah siapa pun yang berani menantangnya, hanya akan mundur dengan luka.

Keenan mendengus, bahkan di bawah cengkeraman Raja. Dengan ekspresi meremehkan, ia meludah ke samping, membersihkan sisa darah di bibirnya. “Pahlawan kesiangan” gumamnya dengan nada mengejek. “Dari tadi ke mana aja, hah?” Suaranya tiba-tiba meledak. “GUA TANYA, DARI TADI LU KEMANA AJA, BRENGSEK?!”

Tanpa menunggu balasan, Keenan memberontak. Ia menarik dirinya dengan kekuatan penuh dan melayangkan pukulan ke rahang Raja, membuat Raja terdorong mundur beberapa langkah, hampir jatuh. Gigi Raja terkatup erat, napasnya memburu, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Keenan maju lagi, cengkeramannya kini berbalik mencengkram kerah Raja. Matanya membara dengan emosi yang sudah meluap, terlalu lama tertahan. “Ini pacar yang katanya sayang?” suaranya penuh sinis dan amarah. “Lu sadar ngga, Noah kesepian dari tadi? Lu sadar ngga dia ninggalin cafe itu karena ngga ada yang nemenin dia? Dan lu, pacarnya, harusnya lu disana, TEMENIN DIA ANJING!”

Amarah Keenan meledak karena cinta yang masih membakar hatinya—cinta yang tak bisa ia lepaskan. Pandangannya penuh luka, melihat Noah, orang yang ia anggap rumah, merasa terbuang dan sendirian seperti anak kucing terlantar. Perasaannya yang hancur membawanya ke titik di mana ia tak lagi peduli seberapa jauh ia melanggar batas.

Noah mendengar semua kata-kata Keenan seperti duri yang mencoba menusuk pertahanan dirinya, namun ia menggeleng pelan, menolak mempercayai apa pun yang keluar dari mulut pria itu. Dengan hati-hati, ia menarik Raja sedikit menjauh, jarinya yang dingin menggenggam lengan kekasihnya seolah ingin meredam api yang membara di dadanya.

“Kakak, udah..” bisiknya lemah, suaranya bergetar, seolah takut jika Keenan akan menghancurkan lebih dari sekadar malam ini—takut ia akan meretakkan apa yang telah mereka perjuangkan.

Raja yang masih terengah, dadanya naik-turun karena emosi yang membakar napasnya, perlahan mengendurkan genggamannya. Tatapan tajamnya yang penuh amarah melembut begitu menyentuh mata Noah. Seolah seluruh dunia menghilang, ia menangkup pipi Noah dengan kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam dengan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.

“You okay?” suaranya pelan, penuh perhatian, meski getaran kecil masih tersisa.

Noah hanya mengangguk pelan, matanya yang berkabut bertemu dengan tatapan lembut Raja.

Lalu Raja menarik napas dalam, menundukkan kepala sedikit. “Maaf, ya?” katanya dengan suara rendah, penuh ketulusan. “Aku malah sibuk sama anak-anak dan gada buat kamu tadi. Dia bener, kamu tanggung jawab aku, ngga seharusnya aku ninggalin kamu sendirian kaya tadi.”

Noah mengatupkan bibirnya, sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia mengangkat tangan dan menyentuh jemari Raja di pipinya. “It’s okay kakak.. ngga apa-apa…” bisiknya, meski hatinya masih sedikit bergetar. “Aku tau kok kakak emang lagi sibuk, maaf juga ya kak karna tadi main pergi aja..”

Raja mengangguk pelan, menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan Noah. Ia mengerti bagaimana kesal dan kecewanya Noah saat ia terlalu asyik dengan teman-temannya tadi, lupa memberi perhatian yang seharusnya Noah dapatkan.

Keenan berdiri mematung, rasa sakit di rahangnya nyaris terlupakan oleh pemandangan yang ada di hadapannya. Ia menyaksikan bagaimana Raja menangkup wajah Noah dengan kedua tangannya, lembut seolah dunia yang mereka tempati hanya milik mereka berdua. Suara Raja, meski tak jelas terdengar dari tempat Keenan berdiri, dipenuhi kehangatan yang tak pernah bisa ia tiru, bukan dengan Noah, dan bukan dengan siapa pun.

Matanya terfokus pada bagaimana Noah menatap Raja, tatapan yang penuh percaya, seperti semua rasa cemas dan takut yang tadi tergambar jelas di wajahnya lenyap begitu saja hanya karena satu sentuhan dari pria itu.

‘He seems safe now—with him. Not with me.

Ia mengertakkan giginya, berusaha menahan semua rasa yang berkecamuk di dadanya. Tetapi apa pun yang tersisa dari keyakinannya kini hanya abu. Ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Noah tidak akan pernah menerima-nya kembali seperti sebelumnya.

Untuk sesaat, hanya keheningan yang mengisi jarak di antara mereka.

Malam yang dingin menjadi saksi dari sepasang hati yang berusaha saling menyembuhkan—satu dengan cinta yang tak tergoyahkan, dan satu dengan harapan yang masih belajar untuk percaya.

—written by ca’jaemturii.

###Him again? cw// Fighting, blood.

Noah merasakan tarikan kuat di pergelangan tangannya, tubuhnya terhuyung ke belakang. Refleks pertahanan diri yang tertanam selama bertahun-tahun langsung bangkit tanpa bisa ia tahan. Ia memutar tubuh dengan cepat, tinjunya melayang ke arah wajah orang yang menahannya.

Bugh.

Terdengar suara pukulan yang keras dan berat. Sosok di depannya mundur selangkah, mengangkat tangan ke pipi yang memerah.

Noah terengah-engah, matanya membelalak melihat hasil pukulannya. Seketika ia terpaku, tubuhnya kaku seperti membeku. “Keenan?”

Keenan mendongak perlahan, wajahnya setengah meringis sambil memegangi rahangnya. Tatapan matanya penuh rasa sakit yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan, tetapi ia masih sempat membenarkan topi yang hampir jatuh dari kepalanya. Ia menyeringai kecil, ujung bibirnya berdarah, jarinya menyentuh tetes merah itu seolah-olah menganggap itu hal sepele, seperti pria yang menertawakan rasa sakitnya sendiri. “Hey, it’s me… again.”

Noah mundur selangkah, memperlebar jarak di antara mereka. Ia menatap Keenan dengan tatapan tajam penuh kekesalan, “Mau apa lagi, sih? Jadi selama ini, aku ngerasa diikutin kemana-mana, itu ulah kamu?” Nada suaranya meninggi, tegas dan penuh tuntutan.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang sama yang terus bergema, ‘Bukankah kemarin semuanya sudah jelas? Ia sudah mengakhiri semuanya, tidak ada lagi ruang untuk masa lalu yang menyakitkan itu.’

“Hey.. hey, dengerin aku dulu, Noah…” Keenan melangkah maju sedkit, tangannya terangkat pelan seolah mencoba meredakan suasana. Suaranya rendah dan lembut, seperti bisikan dari memori yang pernah membuat Noah lemah. “Aku tahu kesalahan aku udah bikin kamu kecewa. But trust me… I’ll change, okay? For you.”

Noah menggeleng pelan, matanya penuh penolakan yang dingin. “I said enough. Kamu baca ngga sih omongan aku di chat kemarin? Aku mutusin kamu bukan cuma karena kamu selingkuh. Aku capek, Keenan. Capek sama kamu.”

Keenan menggeleng dengan gerakan pelan, menolak realitas yang ada di hadapannya. Tatapannya penuh keyakinan yang keras kepala. “No, please.. I can’t. Kamu bisa kasih aku satu kesempatan lagi, Noah. Aku beneran ngga bisa pisah dari kamu. Keluarga kamu juga udah tahu hubungan kita…”

Noah tertawa kecil, tapi nadanya getir. Senyum itu dingin dan penuh jarak. “Mereka ngga akan merasa dirugiin juga, K. They won’t give a damn.” Kalimat itu ia lontarkan dengan santai, seolah perasaan Keenan adalah omong kosong yang tak perlu dihiraukan.

“Lagian aku udah punya pacar. Dia sayang sama aku. Dia bisa jaga aku, dan tentunya dia ngga kayak kamu.” Noah menatap lurus ke mata Keenan, membiarkan kata-katanya menusuk tanpa ampun. “Kamu jahat sama aku.”

Seolah tidak peduli dengan ketegasan itu, Keenan dengan berani meraih kedua tangan Noah. Menggenggamnya dengan erat, penuh rasa putus asa yang menggema di suaranya. “Yakin dia sayang sama kamu? Aku udah cek semua tentang dia. Aku juga sempat stalk semua akun dia. Dan ngga ada tuh satu pun foto kamu di sana.” Keenan mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Beda sama aku, Noah. Aku selalu post foto kamu. Semua orang tau kalo kamu itu bagian dari hidup aku.”

Detik itu, rasa panas menyelimuti tubuh Noah. Bukan panas karena sakit hati, tpi karena amarah yang membakar. Bukan tentang bagaimana Raja tidak memajang fotonya di media sosial, tapi karena Keenan berani merendahkan seseorang yang ia cintai— seseorang yang jauh lebih baik dari orang yang kini berdiri di hadapannya.

Dengan sekuat tenaga, Noah berusaha melepaskan cengkeraman tngan Keenan di pergelangannya. Jemarinya menggeliat, menolak, tetapi cengkeraman itu seperti belenggu. “Lepas.” suaranya tegas, penuh kemarahan yang tertahan.

Keenan tetap kukuh. Matanya menatap Noah dengan kepedihan yang membara, tetapi suaranya penuh keposesif-an yang mengerikan. “Dia ngga sayang kamu, Noah. Dia cuma main-main sama kamu. Please, kasih aku satu kesempatan lagi, No—”

Bugh.

Kata-katanya terpotong. Sebuah tinju melayang cepat dan keras menghantam rahangnya, membuat kepalanya terhempas ke samping.

“Dia bilang lepas, brengsek. Lu tuli?” Suara berat dan tajam itu mengiris malam yang dingin.

Noah terperanjat, menoleh cepat, dan di sana berdiri Raja. Mata Raja menyala penuh amarah, rahangnya mengeras, seolah seluruh tubuhnya adalah bara yang siap meledak.

Tangan kokohnya sudah meraih kerah Keenan, menariknya dengan cengkraman yang begitu kuat hingga napas Keenan tertahan sesaat. Tatapan Raja seperti tantangan yang tak terbantahkan seolah siapa pun yang berani menantangnya, hanya akan mundur dengan luka.

Keenan mendengus, bahkan di bawah cengkeraman Raja. Dengan ekspresi meremehkan, ia meludah ke samping, membersihkan sisa darah di bibirnya. “Pahlawan kesiangan” gumamnya dengan nada mengejek. “Dari tadi ke mana aja, hah?” Suaranya tiba-tiba meledak. “GUA TANYA, DARI TADI LU KEMANA AJA, BRENGSEK?!”

Tanpa menunggu balasan, Keenan memberontak. Ia menarik dirinya dengan kekuatan penuh dan melayangkan pukulan ke rahang Raja, membuat Raja terdorong mundur beberapa langkah, hampir jatuh. Gigi Raja terkatup erat, napasnya memburu, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Keenan maju lagi, cengkeramannya kini berbalik mencengkram kerah Raja. Matanya membara dengan emosi yang sudah meluap, terlalu lama tertahan. “Ini pacar yang katanya sayang?” suaranya penuh sinis dan amarah. “Lu sadar ngga, Noah kesepian dari tadi? Lu sadar ngga dia ninggalin cafe itu karena ngga ada yang nemenin dia? Dan lu, pacarnya, harusnya lu disana, TEMENIN DIA ANJING!”

Amarah Keenan meledak karena cinta yang masih membakar hatinya—cinta yang tak bisa ia lepaskan. Pandangannya penuh luka, melihat Noah, orang yang ia anggap rumah, merasa terbuang dan sendirian seperti anak kucing terlantar. Perasaannya yang hancur membawanya ke titik di mana ia tak lagi peduli seberapa jauh ia melanggar batas.

Noah mendengar semua kata-kata Keenan seperti duri yang mencoba menusuk pertahanan dirinya, namun ia menggeleng pelan, menolak mempercayai apa pun yang keluar dari mulut pria itu. Dengan hati-hati, ia menarik Raja sedikit menjauh, jarinya yang dingin menggenggam lengan kekasihnya seolah ingin meredam api yang membara di dadanya.

“Kakak, udah..” bisiknya lemah, suaranya bergetar, seolah takut jika Keenan akan menghancurkan lebih dari sekadar malam ini—takut ia akan meretakkan apa yang telah mereka perjuangkan.

Raja yang masih terengah, dadanya naik-turun karena emosi yang membakar napasnya, perlahan mengendurkan genggamannya. Tatapan tajamnya yang penuh amarah melembut begitu menyentuh mata Noah. Seolah seluruh dunia menghilang, ia menangkup pipi Noah dengan kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam dengan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.

“You okay?” suaranya pelan, penuh perhatian, meski getaran kecil masih tersisa.

Noah hanya mengangguk pelan, matanya yang berkabut bertemu dengan tatapan lembut Raja.

Lalu Raja menarik napas dalam, menundukkan kepala sedikit. “Maaf, ya?” katanya dengan suara rendah, penuh ketulusan. “Aku malah sibuk sama anak-anak dan gada buat kamu tadi. Dia bener, kamu tanggung jawab aku, ngga seharusnya aku ninggalin kamu sendirian kaya tadi.”

Noah mengatupkan bibirnya, sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia mengangkat tangan dan menyentuh jemari Raja di pipinya. “It’s okay kakak.. ngga apa-apa…” bisiknya, meski hatinya masih sedikit bergetar. “Aku tau kok kakak emang lagi sibuk, maaf juga ya kak karna tadi main pergi aja..”

Raja mengangguk pelan, menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan Noah. Ia mengerti bagaimana kesal dan kecewanya Noah saat ia terlalu asyik dengan teman-temannya tadi, lupa memberi perhatian yang seharusnya Noah dapatkan.

Keenan berdiri mematung, rasa sakit di rahangnya nyaris terlupakan oleh pemandangan yang ada di hadapannya. Ia menyaksikan bagaimana Raja menangkup wajah Noah dengan kedua tangannya, lembut seolah dunia yang mereka tempati hanya milik mereka berdua. Suara Raja, meski tak jelas terdengar dari tempat Keenan berdiri, dipenuhi kehangatan yang tak pernah bisa ia tiru, bukan dengan Noah, dan bukan dengan siapa pun.

Matanya terfokus pada bagaimana Noah menatap Raja, tatapan yang penuh percaya, seperti semua rasa cemas dan takut yang tadi tergambar jelas di wajahnya lenyap begitu saja hanya karena satu sentuhan dari pria itu.

‘He seems safe now—with him. Not with me.

Ia mengertakkan giginya, berusaha menahan semua rasa yang berkecamuk di dadanya. Tetapi apa pun yang tersisa dari keyakinannya kini hanya abu. Ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Noah tidak akan pernah menerima-nya kembali seperti sebelumnya.

Untuk sesaat, hanya keheningan yang mengisi jarak di antara mereka.

Malam yang dingin menjadi saksi dari sepasang hati yang berusaha saling menyembuhkan—satu dengan cinta yang tak tergoyahkan, dan satu dengan harapan yang masih belajar untuk percaya.

—written by ca’jaemturii.

#Him again?

cw// Fighting, blood.

Noah merasakan tarikan kuat di pergelangan tangannya, tubuhnya terhuyung ke belakang. Refleks pertahanan diri yang tertanam selama bertahun-tahun langsung bangkit tanpa bisa ia tahan. Ia memutar tubuh dengan cepat, tinjunya melayang ke arah wajah orang yang menahannya.

Bugh.

Terdengar suara pukulan yang keras dan berat. Sosok di depannya mundur selangkah, mengangkat tangan ke pipi yang memerah.

Noah terengah-engah, matanya membelalak melihat hasil pukulannya. Seketika ia terpaku, tubuhnya kaku seperti membeku. “Keenan?”

Keenan mendongak perlahan, wajahnya setengah meringis sambil memegangi rahangnya. Tatapan matanya penuh rasa sakit yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan, tetapi ia masih sempat membenarkan topi yang hampir jatuh dari kepalanya. Ia menyeringai kecil, ujung bibirnya berdarah, jarinya menyentuh tetes merah itu seolah-olah menganggap itu hal sepele, seperti pria yang menertawakan rasa sakitnya sendiri. “Hey, it’s me… again.”

Noah mundur selangkah, memperlebar jarak di antara mereka. Ia menatap Keenan dengan tatapan tajam penuh kekesalan, “Mau apa lagi, sih? Jadi selama ini, aku ngerasa diikutin kemana-mana, itu ulah kamu?” Nada suaranya meninggi, tegas dan penuh tuntutan.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang sama yang terus bergema, ‘Bukankah kemarin semuanya sudah jelas? Ia sudah mengakhiri semuanya, tidak ada lagi ruang untuk masa lalu yang menyakitkan itu.’

“Hey.. hey, dengerin aku dulu, Noah…” Keenan melangkah maju sedkit, tangannya terangkat pelan seolah mencoba meredakan suasana. Suaranya rendah dan lembut, seperti bisikan dari memori yang pernah membuat Noah lemah. “Aku tahu kesalahan aku udah bikin kamu kecewa. But trust me… I’ll change, okay? For you.”

Noah menggeleng pelan, matanya penuh penolakan yang dingin. “I said enough. Kamu baca ngga sih omongan aku di chat kemarin? Aku mutusin kamu bukan cuma karena kamu selingkuh. Aku capek, Keenan. Capek sama kamu.”

Keenan menggeleng dengan gerakan pelan, menolak realitas yang ada di hadapannya. Tatapannya penuh keyakinan yang keras kepala. “No, please.. I can’t. Kamu bisa kasih aku satu kesempatan lagi, Noah. Aku beneran ngga bisa pisah dari kamu. Keluarga kamu juga udah tahu hubungan kita…”

Noah tertawa kecil, tapi nadanya getir. Senyum itu dingin dan penuh jarak. “Mereka ngga akan merasa dirugiin juga, K. They won’t give a damn.” Kalimat itu ia lontarkan dengan santai, seolah perasaan Keenan adalah omong kosong yang tak perlu dihiraukan.

“Lagian aku udah punya pacar. Dia sayang sama aku. Dia bisa jaga aku, dan tentunya dia ngga kayak kamu.” Noah menatap lurus ke mata Keenan, membiarkan kata-katanya menusuk tanpa ampun. “Kamu jahat sama aku.”

Seolah tidak peduli dengan ketegasan itu, Keenan dengan berani meraih kedua tangan Noah. Menggenggamnya dengan erat, penuh rasa putus asa yang menggema di suaranya. “Yakin dia sayang sama kamu? Aku udah cek semua tentang dia. Aku juga sempat stalk semua akun dia. Dan ngga ada tuh satu pun foto kamu di sana.” Keenan mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Beda sama aku, Noah. Aku selalu post foto kamu. Semua orang tau kalo kamu itu bagian dari hidup aku.”

Detik itu, rasa panas menyelimuti tubuh Noah. Bukan panas karena sakit hati, tpi karena amarah yang membakar. Bukan tentang bagaimana Raja tidak memajang fotonya di media sosial, tapi karena Keenan berani merendahkan seseorang yang ia cintai— seseorang yang jauh lebih baik dari orang yang kini berdiri di hadapannya.

Dengan sekuat tenaga, Noah berusaha melepaskan cengkeraman tngan Keenan di pergelangannya. Jemarinya menggeliat, menolak, tetapi cengkeraman itu seperti belenggu. “Lepas.” suaranya tegas, penuh kemarahan yang tertahan.

Keenan tetap kukuh. Matanya menatap Noah dengan kepedihan yang membara, tetapi suaranya penuh keposesif-an yang mengerikan. “Dia ngga sayang kamu, Noah. Dia cuma main-main sama kamu. Please, kasih aku satu kesempatan lagi, No—”

Bugh.

Kata-katanya terpotong. Sebuah tinju melayang cepat dan keras menghantam rahangnya, membuat kepalanya terhempas ke samping.

“Dia bilang lepas, brengsek. Lu tuli?” Suara berat dan tajam itu mengiris malam yang dingin.

Noah terperanjat, menoleh cepat, dan di sana berdiri Raja. Mata Raja menyala penuh amarah, rahangnya mengeras, seolah seluruh tubuhnya adalah bara yang siap meledak.

Tangan kokohnya sudah meraih kerah Keenan, menariknya dengan cengkraman yang begitu kuat hingga napas Keenan tertahan sesaat. Tatapan Raja seperti tantangan yang tak terbantahkan seolah siapa pun yang berani menantangnya, hanya akan mundur dengan luka.

Keenan mendengus, bahkan di bawah cengkeraman Raja. Dengan ekspresi meremehkan, ia meludah ke samping, membersihkan sisa darah di bibirnya. “Pahlawan kesiangan” gumamnya dengan nada mengejek. “Dari tadi ke mana aja, hah?” Suaranya tiba-tiba meledak. “GUA TANYA, DARI TADI LU KEMANA AJA, BRENGSEK?!”

Tanpa menunggu balasan, Keenan memberontak. Ia menarik dirinya dengan kekuatan penuh dan melayangkan pukulan ke rahang Raja, membuat Raja terdorong mundur beberapa langkah, hampir jatuh. Gigi Raja terkatup erat, napasnya memburu, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Keenan maju lagi, cengkeramannya kini berbalik mencengkram kerah Raja. Matanya membara dengan emosi yang sudah meluap, terlalu lama tertahan. “Ini pacar yang katanya sayang?” suaranya penuh sinis dan amarah. “Lu sadar ngga, Noah kesepian dari tadi? Lu sadar ngga dia ninggalin cafe itu karena ngga ada yang nemenin dia? Dan lu, pacarnya, harusnya lu disana, TEMENIN DIA ANJING!”

Amarah Keenan meledak karena cinta yang masih membakar hatinya—cinta yang tak bisa ia lepaskan. Pandangannya penuh luka, melihat Noah, orang yang ia anggap rumah, merasa terbuang dan sendirian seperti anak kucing terlantar. Perasaannya yang hancur membawanya ke titik di mana ia tak lagi peduli seberapa jauh ia melanggar batas.

Noah mendengar semua kata-kata Keenan seperti duri yang mencoba menusuk pertahanan dirinya, namun ia menggeleng pelan, menolak mempercayai apa pun yang keluar dari mulut pria itu. Dengan hati-hati, ia menarik Raja sedikit menjauh, jarinya yang dingin menggenggam lengan kekasihnya seolah ingin meredam api yang membara di dadanya.

“Kakak, udah..” bisiknya lemah, suaranya bergetar, seolah takut jika Keenan akan menghancurkan lebih dari sekadar malam ini—takut ia akan meretakkan apa yang telah mereka perjuangkan.

Raja yang masih terengah, dadanya naik-turun karena emosi yang membakar napasnya, perlahan mengendurkan genggamannya. Tatapan tajamnya yang penuh amarah melembut begitu menyentuh mata Noah. Seolah seluruh dunia menghilang, ia menangkup pipi Noah dengan kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam dengan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.

“You okay?” suaranya pelan, penuh perhatian, meski getaran kecil masih tersisa.

Noah hanya mengangguk pelan, matanya yang berkabut bertemu dengan tatapan lembut Raja.

Lalu Raja menarik napas dalam, menundukkan kepala sedikit. “Maaf, ya?” katanya dengan suara rendah, penuh ketulusan. “Aku malah sibuk sama anak-anak dan gada buat kamu tadi. Dia bener, kamu tanggung jawab aku, ngga seharusnya aku ninggalin kamu sendirian kaya tadi.”

Noah mengatupkan bibirnya, sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia mengangkat tangan dan menyentuh jemari Raja di pipinya. “It’s okay kakak.. ngga apa-apa…” bisiknya, meski hatinya masih sedikit bergetar. “Aku tau kok kakak emang lagi sibuk, maaf juga ya kak karna tadi main pergi aja..”

Raja mengangguk pelan, menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan Noah. Ia mengerti bagaimana kesal dan kecewanya Noah saat ia terlalu asyik dengan teman-temannya tadi, lupa memberi perhatian yang seharusnya Noah dapatkan.

Keenan berdiri mematung, rasa sakit di rahangnya nyaris terlupakan oleh pemandangan yang ada di hadapannya. Ia menyaksikan bagaimana Raja menangkup wajah Noah dengan kedua tangannya, lembut seolah dunia yang mereka tempati hanya milik mereka berdua. Suara Raja, meski tak jelas terdengar dari tempat Keenan berdiri, dipenuhi kehangatan yang tak pernah bisa ia tiru, bukan dengan Noah, dan bukan dengan siapa pun.

Matanya terfokus pada bagaimana Noah menatap Raja, tatapan yang penuh percaya, seperti semua rasa cemas dan takut yang tadi tergambar jelas di wajahnya lenyap begitu saja hanya karena satu sentuhan dari pria itu.

‘He seems safe now—with him. Not with me.

Ia mengertakkan giginya, berusaha menahan semua rasa yang berkecamuk di dadanya. Tetapi apa pun yang tersisa dari keyakinannya kini hanya abu. Ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Noah tidak akan pernah menerima-nya kembali seperti sebelumnya.

Untuk sesaat, hanya keheningan yang mengisi jarak di antara mereka.

Malam yang dingin menjadi saksi dari sepasang hati yang berusaha saling menyembuhkan—satu dengan cinta yang tak tergoyahkan, dan satu dengan harapan yang masih belajar untuk percaya.

—written by ca’jaemturii.