Makrab

#2

cw// harshword, drunk, alcohol, little fighting.

Setelah makan malam yang penuh gelak tawa dan suara piring beradu, semua kembali ke ruang tengah. Film yang sebelumnya ditonton kini sudah berganti dengan film komedi beradu dengan speaker kecil yang memasang lagu DJ-Tiktok yang belakangan ini sedang viral, tapi perhatian para penghuni Villa Arutal’s lebih banyak tertuju pada obrolan ringan dan candaan antar teman. Tumpukan bantal dan selimut bertebaran di lantai, sofa empuk penuh sesak oleh anak-anak teknik yang duduk berselonjor santai, sebagian rebahan dengan nyaman, dan sebagian lagi sibuk dengan handphone masing-masing.

Di salah satu sudut sofa, Raja duduk dengan nyaman, wajahnya diterangi cahaya ponsel. Jemarinya sibuk mengetik pesan untuk Noah, dan senyuman tipis sesekali terbit di bibirnya. Ia nyaris tidak peduli dengan suara tawa dan teriakan kecil di sekelilingnya. Noah sudah jadi dunianya malam itu.

dan ia menepati janjinya. Gelas yang berisi minuman hanya sekali-sekali ia cicipi, cukup untuk membaur tapi tidak sampai membuatnya hilang kendali. Ia lebih memilih tetap sadar, karena—ya, Noah sudah melarangnya untuk minum terlalu banyak.

Sementara itu, beberapa orang mulai menunjukkan tanda-tanda mabuk. Obrolan yang tadinya santai berubah menjadi lebih keras dan tidak karuan. Tawa semakin sering pecah tanpa sebab yang jelas. Di sudut ruangan, Banu duduk dengan gelas di tangannya, wajahnya sedikit memerah, matanya terlihat sayu. Ia bangkit dengan gerakan yang agak sempoyongan, menatap ke arah Raja yang masih sibuk dengan ponselnya.

“Gua… gua mau ngomong sama lu semua, dengerin gua!” serunya dengan suara keras, membuat suasana yang tadinya ramai jadi hening. Semua mata tertuju padanya.

“Kobam ni bocah.” ucap seseorang sambil terkekeh, berpikir bahwa ini hanya omong kosong anak mabuk.

Banu mengangkat gelasnya, matanya tak lepas dari Raja. “Gua pengen ngomong soal lu, Raja. Wakomting kita yang terhormat.”

Raja mendongak perlahan, alisnya terangkat, tapi ia tetap tenang. Ia sudah terbiasa dengan ledekan seperti ini. “Apaan, Nu?” tanyanya santai, kembali menatap layar ponselnya.

“Lu tuh kaga cocok jadi wakil ketua kita anjing ja.”

Ucapan itu langsung membuat suasana mencekam. Gelas-gelas yang tadinya diangkat kini diturunkan. Beberapa orang yang sudah setengah tertidur langsung terbangun berusaha mendengarkan dengan sadar, menegakkan tubuh mereka. Raja sendiri menurunkan ponselnya perlahan, memperhatikan Banu dengan ekspresi datar.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Banu tertawa kecil, tapi tidak ada humor di matanya. “Liat aja, Tiap kumpulan, lu ngilang. waktu kita lagi repot ngurus ni makrab, lu malah izin, apaan alasan lu izin pas itu? Pacaran, kan?” Matanya menyapu seluruh ruangan. “Pacaran dia bangsatt!” ulangnya, menekankan kata itu dengan nada mengejek. “Bukannya ngurusin kita, malah lebih milih jalan sama pacar. Wakil ketua apaan kaya gini hah?”

Beberapa orang tersentak. Sebagian terdiam, merasa tidak enak. Tapi ada juga yang mulai berbisik, membahas hal yang selama ini hanya jadi rumor di belakang. Suasana semakin panas.

Mendengar kalimat itu, Raja menurunkan ponselnya perlahan, meletakkannya di samping sofa tanpa membalas pesan terakhir dari Noah.

Ia menarik napas dalam-dalam, meneguk habis isi gelas yang entah kapan sudah ada di tangannya, rasa alkohol membakar tenggorokannya. Dengan gerakan santai, ia merenggangkan otot-otot leher, memutar kepalanya ke kiri dan kanan, bunyi retakan kecil terdengar jelas di keheningan yang mencekam.

Matanya kini tajam, sorotannya menusuk ke arah Banu. “Lu dapet info dari mana? Ada gua bilang kaya gitu?” suaranya rendah tapi penuh tekanan, membuat udara malam yang dingin terasa semakin menyesakkan. “Gua izin-nya sama lu waktu itu?”

Suasana di dalam villa kian mencekam. Tak ada suara kecuali desiran pelan dari pendingin ruangan. Beberapa orang mulai saling menyikut, membisikkan hal-hal yang tak ingin mereka katakan keras-keras.

“Tapi emang kenyataannya kaya gitu, kan, Ja?” Suara Kibow memecah keheningan. Ia berdiri di sisi Banu, menatap Raja dengan ekspresi serius. “Sebelum hari-H, lu tiba-tiba ngilang. Gua tanya, lu kemana? Nyari pacar lu, kan?” Ia menggeleng pelan, menyeringai.

“Kurang jelas, kah? Dari situ aja udah keliatan. Lu lebih mentingin pacar daripada kita.”

Banu, yang merasa mendapat dukungan, tersenyum miring. Ia melangkah maju, mendekat ke tengah ruangan, dadanya membusung penuh amarah. “Gua tanya sekarang sama kalian semua!” suaranya bergetar, penuh dorongan emosi. “Emang lu pada mau punya wakomting modelan begini? yang pacaran terus! yang ngilang waktu kita butuh!”

Suasana hening. Tidak ada yang langsung menjawab. Beberapa hanya saling bertukar pandang dengan ekspresi canggung, sementara yang lain mulai berbisik pelan. Banu menatap mereka dengan penuh emosi, frustrasi memuncak. “Jawab, anjing!” bentaknya, kemudian menendang pelan salah satu temannya yang rebahan di dekatnya, membuat orang itu terlonjak kaget.

Namun Raja tetap tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, ia bangkit dari tempat duduk dengan tenang, tubuhnya tinggi menjulang, memberikan aura dominan yang langsung memenuhi ruangan. Ia memandang semua orang yang hadir dengan tatapan yang sulit ditebak. Banu menatap balik, tapi kali ini ada sedikit keraguan di matanya.

Semua menunggu. Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang terasa seperti bom waktu.

“Terus lu maunya gimana?” tanya Raja, suaranya rendah tapi tegas, penuh tekanan yang langsung mengunci perhatian semua orang di ruangan itu. Pandangannya tajam menusuk ke arah Banu yang masih berdiri dengan napas tersengal.

Banu mengusap rambutnya dengan kasar, frustrasi. “Ya lu putus lah, anjing!” serunya penuh amarah. “Buktiin ke kita-kita kalo prioritas lu cuma kita di sini! kaga kebagi sama yang laen! Lu wakil ketua, Ja, bahkan sekarang adip lagi ngga bisa mimpin, dan lu sebagai ketua bukan orang yang bisa seenaknya pacaran di atas tanggung jawab!”

Mendengar itu, beberapa anak inti yang tahu betul soal hubungan Raja dan Noah langsung menegang. Mereka saling bertukar pandang, ekspresi tidak suka mulai terlihat jelas di wajah mereka. Mereka tahu, selama ini Raja tetap menjalankan tanggung jawabnya. Bahkan, villa megah tempat makrab ini adalah milik keluarganya, dan ia dengan tangan terbuka meminjamkannya tanpa syarat. Raja selalu ada untuk angkatannya, meskipun terkadang waktunya harus berbagi dengan Noah, tetapi itu bukan menjadi masalah besar yang harus diumbar seperti ini.

Dari pojok ruangan, suara kursi yang bergeser tiba-tiba memecah keheningan. Laskar, dengan mata tajam penuh kemarahan, berdiri tegak. Ia memandang Banu dengan ekspresi muak, gelas kosong masih di genggamannya. Meskipun ia sudah minum banyak malam itu, kesadarannya masih utuh, dan suaranya penuh amarah yang tak terbendung.

“Lu ngga punya hak, bangsat!” teriaknya lantang, membuat beberapa orang tersentak. Ia melangkah maju, mendekat ke tengah ruangan. “Selama ini lu udah kontribusi apaan gua tanya?” tatapannya tajam, seperti bara yang menyala. “Lu pernah bikin apa buat kita selain banyak ngomong? Lu disini numpang anjing, lu pikir minuman yang lu minum dari siapa ngentot?! Raja anjing, Raja yang nyiapin ini semua, Terus sekarang lu seenaknya ngatur dia? Lu pikir lu siapa?”

Ruangan itu memanas. Bisikan berubah menjadi dengusan marah, beberapa anak menggeleng dengan tegas menolak ucapan Banu, sementara yang lain diam, menunduk, mencoba mencerna setiap kata yang terlontar. Suasana berubah kikuk, udara malam yang dingin justru terasa semakin menyesakkan.

“Kok lu marah?” ejek Banu, suaranya penuh tantangan. “Gua cuma ngomong apa yang gua liat. kaga boleh? Gua punya hak kan? gua juga punya hak buat ngomong gini klo lu lupa.” Ia melanjutkan dengan nada lebih menusuk, “Gua ngomong gini biar wakomting lu pad sadar. Dia dikasih tanggung jawab gede, jangan seenaknya.”

Tawa pelan dan penuh sindiran memecah keheningan. Dari sudut ruangan, Patur bertepuk tangan keras-keras, suara tepukannya menggema, menarik perhatian semua orang. Ia bangkit dari tempat duduk dengan senyum mengejek yang melekat di wajah.

“Lah, kenapa pada diem? Tepuk tangan dulu buat Banu woi, keren banget, kan? Yuk, applause dulu applause!” katanya sambil terkekeh. “Udah puas? Ada lagi ngga yang mau lu omongin, Nu? Congor lu masih mau ngebacot kaga, bangsat?” Suara Patur meninggi, membuat beberapa orang tersentak.

Banu menelan ludah, tapi tetap bertahan. “Gua cuma ngomong sesuai fakta. kaga ada yang salah, kan?”

Patur mendengus, matanya membara. “Lu tau kaga tujuan makrab itu apa, hah? Tadi gede congor lu. Jawab!” bentaknya.

Raja tetap diam di tempatnya, matanya menyipit, mengamati setiap gerakan dan perkataan Banu. Ia ingin melihat seberapa jauh Banu berani mengutarakan semua pikirannya.

“Makrab itu buat ngejaga kebersamaan. Bukan buat ngerusak. Kalau lu ngerti soal tanggung jawab, lu ngga bakal bikin ribut di sini!” Patur meraih kerah Banu dengan satu tangan, menariknya mendekat dengan tatapan penuh amarah.

Mata Banu bergetar, tapi ia tetap memaksakan wajah penuh percaya diri. “Justru ini waktu yang paling pas buat ngomong, Tur. Lu pikir gua bakal diem terus?” desisnya, suaranya sedikit bergetar.

“Terus, mau lu apa sih anjing, sebenernya?” tanya Patur, giginya beradu.

“Mau gua? Mau gua—RAJA PUTUS SAMA PACAR NYA, ANJING!” teriak Banu, suaranya menggema memenuhi ruangan.

Bugh.

Pukulan Patur melayang tepat ke pipi Banu, membuat tubuhnya tersentak namun belum cukup kuat untuk membuatnya goyah.

“Lu pikir lu siapa?” geram Patur, suaranya rendah tapi bergetar penuh amarah. “Lu kaga punya hak ngomong itu, bangke!”

Banu sedikit terhuyung, tapi tetap berdiri, menunggu pukulan berikutnya. Patur sudah mengangkat tangannya lagi saat sebuah suara rendah dan tegas memotong emosi yang membara.

“Berhenti.”

Satu kata sederhana, tapi penuh otoritas. Raja mulai berbicara. Suaranya mengalir dengan tenang, tapi memancarkan kekuatan yang tak bisa dibantah.

“Lepasin, Tur. Ngga ada yang gua bolehin main tangan di sini.” lanjut Raja, matanya menatap langsung ke Patur.

Patur masih mematung dengan tangan terangkat, matanya menyipit bingung.

“Gua bilang, berhenti.” ulang Raja, lebih keras.

Akhirnya, Patur melepaskan genggamannya dengan napas berat, lalu melangkah mundur. Ia duduk kembali, meski dadanya masih bergemuruh dengan amarah yang tertahan.

Ruangan itu kembali sunyi. Semua orang menunggu, bahkan hanya untuk bernapas. Raja menenangkan dirinya sejenak sebelum akhirnya berdiri, menatap mereka satu per satu dengan penuh ketenangan.

“Gua jelasin di sini, sekarang.” ucapnya pelan, tapi jelas. “Gua ngga ada hubungan sama siapa-siapa. Gua cuma pengen malam ini kita bikin makrab yang seru. Kita di sini buat kekuatan buat ngebangun solidaritas, bukan buat ribut ngga jelas. Kalau ada masalah sama gua, bilang langsung ke gua. Jangan bikin suasana rusak.”

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Lu ngga perlu khawatir, Banu. Gua ngerti tanggung jawab gua. Dan makasih buat teguran lu. Lanjut, jangan ada yang ngerusuh lagi sebelum acara makrab ini kelar.”

Setelah ucapannya selesai, Raja meraih ponsel dan membawa satu botol minuman di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan ke arah kamar, meneguk semua minumannya hingga tandas. Kepalanya terasa berat, pikirannya melayang jauh, entah ke mana.

Ia hanya tidak bisa berhenti berpikir akan satu hal, Noah-nya.

by ca’jaemturii