Tongkrongan Belakang
Seperti biasa, setelah kelas usai, Raja punya janji untuk berkumpul bersama teman-temannya di tongkrongan belakang, tepatnya di belakang fakultas teknik. Tempat itu sudah seperti markas tak resmi mereka—di sanalah suara tawa dan keluh kesah bercampur, di sanalah cerita lelah berubah menjadi guyonan yang memecah penat.
Bagi mereka anak teknik mesin, tempat itu adalah kawasan sakral yang selalu ramai oleh obrolan tentang tugas, proyek, atau sekadar perdebatan siapa yang punya cara paling cerdas memecahkan persoalan hidup. Namun, sore ini terasa sedikit berbeda untuk Raja. Sebagai wakil ketua angkatan, dia tahu benar tanggung jawab yang kini bertambah berat di pundaknya.
Adip, sang ketua angkatan, baru saja mengalami kecelakaan yang membuatnya harus absen untuk sementara waktu. Tugas memimpin makrab, yang seharusnya menjadi tanggung jawab Adip, kini jatuh sepenuhnya ke tangan Raja. Bukan hanya peran tambahan—tapi juga ekspektasi, sorotan, dan tekanan yang tak bisa dihindari.
Raja sadar bahwa ini adalah waktunya untuk membuktikan bahwa dia bisa diandalkan. Dia harus mengendalikan situasi, memimpin dengan kepala dingin, dan memastikan semuanya berjalan lancar.
Kali ini bukan cuma soal nongkrong dan bercanda seperti biasanya—ini soal memperlihatkan bahwa dia layak untuk memegang peran itu atau tidak, setidaknya sampai Adip bisa kembali. Dan meski pikirannya masih setengah terikat pada kejadian malam sebelumnya dengan Noah, dia tau benar tanggung jawab yang tetap harus didahulukan.
Setelah mengantarkan Noah dengan aman sampai kost-nya, Raja segera melangkah keluar dari area kos Noah, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, seolah ingin melepaskan semua beban yang menumpuk sejak tadi malam. Ia menatap jam di pergelangan tangannya—sial, udah hampir jam enam. Meski sudah bergegas, waktu tetap saja terasa melesat.
Begitu sampai di motor, ia sempat melirik layar ponselnya yang dipenuhi notifikasi dari grup angkatannya. Beberapa pesan terakhir membuatnya menghela napas panjang lagi.
Perjalanan menuju tongkrongan malam itu terasa lebih cepat dari biasanya bagi Raja, meski setiap detiknya seperti menambah beban berat di punggungnya. Angin dingin yang berembus saat ia menyusuri jalan kecil di atas motornya tak cukup untuk mendinginkan pikirannya.
Sesampainya di depan warung sederhana yang biasa disebut tongkrongan belakang—tempat ia dan teman-temannya berkumpul. Ia segera memarkirkan motornya dan berjalan lambat kearah teman-temannya yang sudah menunggu, seakan-akan sedang menunda sesuatu yang tak bisa ia hindari.
Warung itu ramai seperti biasa. Lampu yang sedikit temaram menciptakan suasana hangat, kontras dengan malam yang mulai mendingin. Tawa dan obrolan riuh mahasiswa, yang mayoritas-nya adalah anak teknik, terdengar jelas. Mereka bergerombol dalam kelompok kecil, duduk di bangku panjang atau bersandar santai sambil menyeruput kopi. Suara yang sudah akrab di telinganya membuncah dalam bentuk ejekan dan candaan.
“Widih, ketua kita dateng juga nih.” seru Banu dengan nada yang sengaja dibuat menonjol, seakan mengundang perhatian semua orang di sana.
Raja hanya menoleh sekilas. Dia mengenal Banu lebih baik dari yang ingin diakuinya—seorang teman seperjuangan yang dulunya menjadi lawan dalam pemilihan ketua angkatannya. Hubungan mereka memang lebih kompleks dari sekadar ikatan pertemanan biasa. Tanpa menjawab, Raja melangkah melewati Banu dan langsung duduk di lingkaran inti. Ia memilih tempat di tengah-tengah, posisi yang memberinya ruang untuk mengamati sekaligus memimpin percakapan.
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menghilangkan sisa rasa canggung yang tertinggal sejak memasuki tongkrongan. “Jadi, kemarin gimana? Udah ditentuin soal konsum sama kendaraan?” tanyanya, membuka diskusi dengan nada serius yang sudah biasa.
Laskar, yang kemarin sempat menjadi pemimpin kelompok perencanaan, menegakkan tubuh dan langsung menjawab. “Iya, kemarin udah fix ja. Kita bakal tetep sewa elf. Satu elf si kayaknya cukup, sisanya konvoi naik motor. si Patur bilang dia punya kenalan buat nego harga sewa. Nah buat konsum, kita sepakat kolekan, tiap orang bawa dua bungkus mie atau lebih. Sisa uang kolekan buat beli beras. Kan cuma semalam doang, pasti cukup.”
Raja mengangguk, matanya menyapu wajah-wajah di sekitarnya. “Oke, kalau gitu gua bawa mobil, soal konsum juga gua bakal nambahin nanti jadi aman. Soal acara, kemarin gua udah bikin rundown. Karena hari Sabtu jalan Puncak ada ganjil-genap, ya yang naik motor aman, tapi elf-nya mending jangan lewat jalan utama. Kalau mau, bisa berangkat pagi sebelum ditutup.”
Obrolan mulai terys bergulir dengan saran dan pendapat yang saling dilontarkan. Mereka berbicara soal rute perjalanan, waktu keberangkatan, dan detil acara untuk hari H. Sebagian teman terlihat serius mendengarkan, sementara yang lain sesekali melemparkan candaan. Namun, suasana tetap fokus hingga akhirnya Raja memutuskan untuk merangkum pembicaraan.
“Oke, kita sepakatin kaya gitu ya. Buat tikum tetep diparkiran FT, Laskar mimpin jalan buat yang convoi, Nusa sama Patur bagian jaga belakangan, gua bakal bareng elf nanti.” katanya, sambil melirik jam tangan yang menunjukkan pukul satu dini hari.
Sesaat, pikirannya mulai berkelana ke nama yang sudah memenuhi benaknya sejak sore tadi. Noah. Namun, lamunannya segera terputus ketika Banu, dengan suara khasnya yang tak pernah ia abaikan, kembali angkat bicara.
“Ngomong-ngomong, kemarin lu kemana, Ja? Pulang cepet banget.” tanya Banu dengan nada setengah mengejek, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.
Raja menoleh perlahan, mengatur responsnya dengan hati-hati. “Sebelumnya gua mau minta maaf sama lu semua. Kemarin gua bener-bener ada urusan mendadak. Panik gua, makanya ngga sempet pamitan.”
Beberapa teman mengangguk, menerima penjelasan itu tanpa banyak bertanya. Namun, Banu tetap duduk dengan tatapan menyelidik yang sulit diabaikan.
“Urgent banget?”
“Ya, kalo ngga urgent, gua nggak bakal ninggalin kalian gitu aja nu.” jawab Raja dengan nada datar, tetap tenang meski dadanya terasa sedikit sesak.
Banu menyunggingkan senyum tipis. “Oh, ya gua percaya aja si. Cuma kasian aja, kepala kumpulannya malah pulang duluan.”
Ejekan itu diiringi tawa kecil yang membuat beberapa teman ikut tergelitik. Tapi Raja tetap tak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia hanya menghela napas pelan, pandangannya tertuju pada lantai semen yang dingin di bawah kakinya.
Setelah beberapa saat, Banu dan kawannya mulai berpamitan. Mereka menepuk pundak teman-teman lain sambil melontarkan ucapan selamat tinggal dengan nada guyon. Ketika tiba gilirannya untuk tos dengan Raja, Banu sedikit membungkuk, menyeringai kecil dengan gumaman yang terdengar samar namun jelas sembari menepuk pundak Raja.
“Pacar lu termasuk urgent?”
Meski pelan, gumaman itu seperti tertuju langsung ke hatinya. Raja tetap tak bereaksi selain menarik napas dalam-dalam. Matanya mengikuti punggung Banu yang perlahan menghilang dalam kegelapan malam. Kali ini, tak ada yang perlu ia katakan—karena beberapa hal lebih baik disimpan sendiri.
—written by jaemturii