Unseen, unbroke.

cw//kissing 💋

Hari-hari berlalu, membawa waktu yang sejenak memudarkan ingatan tentang kemarin. Di tengah senyuman yang harus terlihat biasa, ada cerita yang tak tampak oleh mata. Sebuah kisah yang berjalan di batas antara yang tersembunyi dan yang nyata—seolah tak ada yang berubah, padahal banyak hal tak pernah sama.

Pilihan mereka, meski penuh tanda tanya, tetap menjadi langkah yang tak pernah disesali. Ada kekuatan yang hanya mereka pahami, satu bahasa yang berbicara lewat rasa, bukan kata. Cinta itu mungkin tak terlihat oleh sebagian orang, tapi tidak pernah kurang dari utuh. Jalan yang mereka tempuh mungkin tersembunyi di bayang-bayang, tetapi di sana mereka menemukan arti bertahan—di balik tangan yang saling menggenggam meski dunia tak pernah benar-benar tahu.

•••

Senyuman di wajah Raja tak kunjung pudar, sesaat setelah ia memarkir motornya di depan kost Noah, ia melepas helm dengan gerakan ringan, lalu jemarinya bergerak cepat di layar ponsel untuk memberitahu Noah agar segera turun.

‘udah dibawah cil’

Mereka memang sudah memiliki janji weekend ini—rencana sederhana yang mereka pikirkan untuk menghabiskan waktu bersama. Tak lama, Noah muncul dari pintu dengan langkah ringan, senyuman manis yang tak pernah hilang dari wajahnya. Cahaya matahari sore jatuh lembut di wajahnya, menciptakan kilau hangat yang cukup membuat dada Raja berdegup cepat—cantiknya.

“Kak! Mana helm buat aku??” Noah menyapa ceria dengan suara yang dipenuhi senyuman manis. “Ini, sayang.” Raja menyodorkan helm, lalu dengan lembut memakaikannya di kepala Noah, tangannya bergerak hati-hati seolah takut menyakiti sesuatu yang berharga. “Agak panas loh sore ini cil. Kenapa tadi nolak gua ajak naik mobil?” tanyanya sambil menurunkan footstep agar Noah lebih mudah naik ke motor.

“Engga panas kok, kan udah sore kakk.. Lagian kalo naik mobil, aku nanti engga bisa kaya gini.” Tanpa ragu, Noah melingkarkan tangannya di pinggang Raja dengan erat, penuh rasa memiliki. Raja menunduk, melihat tangan kecil itu memeluknya dengan pas—seolah jemari Noah diciptakan hanya untuk memeluk hangat di tubuhnya. Ia tersenyum kecil, mengangkat satu jemari Noah, menciumnya perlahan sebelum mengembalikannya ke tempat semula.

Noah hanya mampu menenggelamkan wajahnya ke punggung Raja, menikmati setiap momen itu. “Kakak… ayo jalan, ih.”
“Haha, iya, Cil. Pegangan, ya.”

Angin sore mulai menyapu wajah mereka. Jalanan yang ramai tak mampu mengusik percakapan penuh tawa yang terus mengalir. Mereka berbagi cerita tentang hari-hari yang mereka jalani, membuat waktu melambat sejenak dalam perjalanan itu.

Setibanya di tempat tujuan, Raja memarkirkan motor-nya dan melepas helm mereka. Dengan santai, ia menyodorkan lengannya untuk Noah genggam, dan mereka berjalan beriringan di taman yang rindang. Pepohonan besar memberikan keteduhan, sementara udara dipenuhi aroma kopi dari kafe-kafe kecil yang tersembunyi dibalik pepohonan.

Mata Noah tidak berhenti menelusuri penuh rasa kagum. “Kak, lihat deh! Ada bebek-bebekan, lucu bangettt kesitu yukk.” Ia menunjuk perahu bebek yang melayang tenang di permukaan air, dikayuh perlahan oleh pasangan-pasangan lain yang sedang menikmati sore.

“Mau naik itu?” Raja bertanya sambil melirik ke arahnya. Noah mengangguk antusias.
“Yaudah, kita naik itu dulu, ya? abis itu baru cari gelato.”

Mereka menikmati angin sejuk disore hari dengan mengayuh bersama dan saling melemparkan candaan, mencuri waktu di bawah langit yang mulai berwarna jingga, menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil yang penuh makna.

“KAKAK AKU TAKUT JATOHH.” teriak Noah cukup kencang karena Raja mengusili-nya dengan menggoyangkan badannya agar perahu bebek yang mereka naiki bergoyang sedikit. “Aman sayang, kan ada gua, tenang aja oke?” kekeh nya.

•••

Pasangan itu akhirnya puas menikmati waktu di atas perahu bebek, riak air yang mengiringi perjalanan mereka perlahan mereda saat kaki mereka kembali menjejak daratan. Sore semakin merona keemasan, dan langkah mereka berlanjut. Noah, dengan kamera di tangannya, sibuk memotret pemandangan dan hal-hal kecil yang menurutnya lucu—seorang anak berlari membawa balon, sepasang angsa di tepi danau, atau pantulan cahaya di permukaan air. Sesekali, ia berhenti sejenak, berdiri di atas batu untuk mendapatkan sudut pandang terbaik.

“Awas jatoh, Cil. Hati-hati” ujar Raja sambil sigap memegangi pinggang Noah, senyumnya penuh kesabaran.
“Nggaa akan kakak.” balas Noah tanpa menoleh, matanya masih fokus pada layar kamera, puas dengan hasil jepretannya yang terakhir.

“Cil, gelato tuh disana, yuk.” Raja menunjuk ke arah kedai yang mencolok dengan logo ice cream yang dibentuk seperti meleleh. Mereka berdua berjalan beriringan, langkah mereka santai, tangan yang selalu terikat menciptakan rasa hangat yang tak perlu diucapkan.

Begitu sampai di depan lemari kaca yang penuh dengan warna-warni rasa es krim, Raja membungkuk sedikit, matanya mengamati aneka pilihan yang ingin ia makan sore ini.
“Kakak, aku mau mint choco aja tuh, yang ituu.” ujar Noah sambil menunjuk rasa favoritnya dengan mata berbinar.
Raja hanya mengangguk tersenyum dan segera memesan dua cup gelato rasa mint choco, menyerahkan satu ke Noah sebelum mereka kembali ke luar.

Di bawah langit yang sudah berwarna jingga, Noah memotret es krim di tangannya dengan penuh antusias, sedangkan Raja—dengan usil—membuat gerakannya kacau agar hasil jepretannya menjadi buram.

“Diem dulu ih kakkk jadi jelek fotonyaa!” Noah mengerutkan dahi, nadanya setengah menggerutu. Tingkah itu justru membuat Raja tertawa lepas, lalu tanpa aba-aba ia menyendokkan sesendok es krim ke arah Noah.

“Nih, buka mulutnya, Sayang.”

Noah sempat membuka mulutnya, tetapi es krim dingin itu malah mendarat di pinggir bibirnya, berantakan dan menyisakan jejak manis di sana. “Kakk ih haha iseng banget sihh.” Noah tertawa kecil, hendak melanjutkan omelannya, namun sebelum kata-kata itu sempat keluar, Raja sudah lebih cepat membungkuk. Dengan sebuah ciuman singkat di ujung bibir, ia menjilat sisa es krim yang masih tertinggal dengan cepat.

Noah terdiam sejenak, wajahnya mulai memerah, tetapi tawa kecil yang meluncur dari bibirnya seolah menolak berpura-pura kesal. “Kakak.. rame tau.. aku malu..”

Mereka menghabiskan sore di antara rasa dingin gelato dan kehangatan yang membalut, dunia terasa lebih lambat, dan cara mereka untuk saling melengkapi membuat hadir dalam tawa, usikan kecil, dan rasa manis yang tak segera hilang.

•••

Perjalanan mereka terus bergulir, membawa mereka melintasi jalanan yang mulai diselimuti dingin malam. Cahaya lampu dari sudut-sudut jalan dan gedung-gedung tinggi ini seperti bintang buatan dimatanya, menciptakan pemandangan kota yang gemerlap. Noah tidak benar-benar tahu sejak kapan ia mulai menyukai momen seperti ini—ketika Raja membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah ia bayangkan, seperti malam ini.

Mereka berada di atas sebuah rooftop yang asing baginya. Udara malam berhembus kencang, menyapu wajahnya dengan kesegaran yang jarang ia temukan. Noah menarik napas dalam-dalam, membiarkan rasa damai mengisi dadanya, sementara pandangannya jatuh pada deretan mobil yang berderu di bawah, menjadi alur cerita kecil dalam hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur.

Raja datang dari belakang, membawa plastik berisi makanan ringan yang sempat ia beli. Ia menempatkan plastik itu di antara mereka di kursi panjang yang memandang langsung ke cakrawala. “Hey, nyaman banget kelihatannya. Adem, ya?” tanyanya dengan senyum kecil yang selalu terasa hangat.

“Hehe, adem banget, Kak. Aku suka.” Noah menoleh, matanya berbinar penuh rasa penasaran. “Kakak tahu dari mana tempat ini?”

“Dari Patur si.” jawab Raja santai, matanya sesekali menyapu pemandangan kota yang berkilauan di bawah mereka. “Waktu itu kita bingung gada ide mau geser ke mana lagi buat nongkrong. Terus Patur bilang aja ke rooftop langganannya. Katanya sering kosong, dan paling enak buat lihat city light kayak gini.”

Noah mengangguk, senyumnya ringan, sementara kamera di tangannya kembali sibuk mengabadikan setiap sudut malam yang terasa istimewa. Namun, ia segera menoleh begitu Raja memanggil namanya dengan lembut.

“Cil.”

“Hum? Kenapa, Kak?” jawab Noah, menurunkan kameranya.

Raja meraih tangannya perlahan, menautkan jemari mereka dengan gerakan yang terasa begitu intim, begitu tenang. Jemarinya hangat dan kokoh, menyatu dengan tangan Noah yang lebih kecil darinya. Ia menarik napas sejenak, membiarkan kata-kata yang sudah lama ingin diucapkannya keluar dengan pelan, tetapi penuh makna.

“Gua mau bilang makasih..” suaranya lembut dan dalam, “Maaf kalo gua terus-terusan bilang itu sampe lu bosen mungkin? tapi serius… gua bersyukur banget bisa ketemu manusia yang lebih mirip malaikat kayak lu.”

Noah, dengan bibirnya yang mengerucut lucu, menatap Raja dengan sorot bingung yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Ia tak tahu harus membalas bagaimana.

“Kakak…” suaranya bergetar pelan. “Kok tiba-tiba ngomong kayak gini, sih? Aku ngga apa-apa, kok. ngga perlu makasih terus. Aku sayang sama kakak, kan udah seharusnya aku ngerti dan support kakak.”

Raja tersenyum, mengangkat satu alis dengan tatapan penuh kasih. “Mungkin kalo waktu itu lu mutusin buat nyerah pacaran sama gua…” ia menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, “Gua ngga akan pernah bisa nemuin lagi orang kayak lu. Lu itu beneran kaya malaikat, Noah, lu baik, lucu, perhatian, cantik—eh, ganteng, maksudnya. Haha. Pokoknya, paket komplit deh.”

Noah tersipu, wajahnya memerah seperti senja yang malu-malu, dan tanpa bisa menahan diri, ia refleks menyenderkan wajahnya, menenggelamkannya ke dada Raja sambil memukul pelan dada-nya. “Apaan sih, kak… aku maluu tauu.. jangan ngomong gitu terus.”

Raja terkekeh pelan, suaranya rendah, dan dengan lembut ia menangkup pipi Noah. Jemarinya menyapu kulit hangat yang kini dihiasi rekahan merah muda. Ia mengecup kedua pipi itu, pelan, satu per satu, membuat Noah memejamkan mata, menunggu dengan detak jantung yang semakin kencang.

Dalam sunyi yang terisi oleh kuatnya desiran angin malam, Raja mendekatkan tubuh mereka, matanya terhenti tepat di bibir yang kini terlihat seperti buah ceri yang menyegarkan dan sangat memikat di depannya. Perlahan, ia menyentuhkan bibir dinginnya ke bibir lembab Noah, mencicipi rasa manis yang selalu membuatnya lupa dunia. Ia sesap, memberi lumatan kecil yang begitu dalam, seolah waktu berhenti untuk mereka.

Noah, dengan pasrah dan sadar membuka akses baginya. Bibir mereka saling mencari, saling melumat dan menyesap, membiarkan rasa bercampur tanpa batas. Tangannya melingkar erat di leher Raja, jari-jarinya meremas lembut tekuk leher itu, menahan seolah tak ingin kehilangan kehangatan yang tak tertandingi.

Saat tautan itu perlahan terlepas, udara malam kembali memenuhi paru-paru mereka. Saliva yang tertinggal adalah jejak kecil dari perasaan yang begitu besar. Mata Raja yang dalam bertemu dengan tatapan teduh Noah, penuh dengan cinta yang tak pernah bisa dirangkai hanya dengan kata.

Dengan suara rendah dan penuh ketulusan, Raja membisikkan segalanya dalam tiga kata.
“I love you, Noah Pramaja.”

Bahagia.

Akhir kisah yang paling bahagia adalah hal yang paling cocok untuk akhir kisah mereka. Malam telah menjadi saksi, angin yang berhembus lembut membawa jejak tawa dan rasa yang hanya mereka miliki.

Dunia di sekeliling mereka tetap berputar, sibuk dengan hiruk pikuknya sendiri, sementara di sudut kecil itu, di atas kota yang gemerlap, cinta mereka bertumbuh tanpa perlu diumbar atau dipertontonkan. Tidak ada kamera yang mengabadikan mereka, tidak ada pula status yang memperkenalkan hubungan mereka kepada dunia—namun cinta yang mereka miliki begitu nyata, begitu kuat, hingga dunia terasa kecil dan tak berdaya di hadapan mereka.

Orang mungkin berpikir cinta yang disembunyikan akan melemah dan memudar, bahwa tanpa sorotan dan pengakuan, ia akan hancur oleh keraguan. Tapi mereka membuktikan sebaliknya.

Cinta mereka bukan untuk divalidasi oleh orang lain, bukan untuk dipamerkan di media sosial, melainkan untuk dirasakan di setiap detak jantung dan hembusan napas yang mereka bagi bersama.

Mereka tahu bahwa cinta mereka bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh banyak orang, tetapi mereka tidak pernah butuh persetujuan siapa pun—karena mereka memiliki satu sama lain, dan itu sudah lebih dari cukup.

End—