jaemturii

Him

###Him again? cw// Fighting, blood.

Noah merasakan tarikan kuat di pergelangan tangannya, tubuhnya terhuyung ke belakang. Refleks pertahanan diri yang tertanam selama bertahun-tahun langsung bangkit tanpa bisa ia tahan. Ia memutar tubuh dengan cepat, tinjunya melayang ke arah wajah orang yang menahannya.

Bugh.

Terdengar suara pukulan yang keras dan berat. Sosok di depannya mundur selangkah, mengangkat tangan ke pipi yang memerah.

Noah terengah-engah, matanya membelalak melihat hasil pukulannya. Seketika ia terpaku, tubuhnya kaku seperti membeku. “Keenan?”

Keenan mendongak perlahan, wajahnya setengah meringis sambil memegangi rahangnya. Tatapan matanya penuh rasa sakit yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan, tetapi ia masih sempat membenarkan topi yang hampir jatuh dari kepalanya. Ia menyeringai kecil, ujung bibirnya berdarah, jarinya menyentuh tetes merah itu seolah-olah menganggap itu hal sepele, seperti pria yang menertawakan rasa sakitnya sendiri. “Hey, it’s me… again.”

Noah mundur selangkah, memperlebar jarak di antara mereka. Ia menatap Keenan dengan tatapan tajam penuh kekesalan, “Mau apa lagi, sih? Jadi selama ini, aku ngerasa diikutin kemana-mana, itu ulah kamu?” Nada suaranya meninggi, tegas dan penuh tuntutan.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang sama yang terus bergema, ‘Bukankah kemarin semuanya sudah jelas? Ia sudah mengakhiri semuanya, tidak ada lagi ruang untuk masa lalu yang menyakitkan itu.’

“Hey.. hey, dengerin aku dulu, Noah…” Keenan melangkah maju sedkit, tangannya terangkat pelan seolah mencoba meredakan suasana. Suaranya rendah dan lembut, seperti bisikan dari memori yang pernah membuat Noah lemah. “Aku tahu kesalahan aku udah bikin kamu kecewa. But trust me… I’ll change, okay? For you.”

Noah menggeleng pelan, matanya penuh penolakan yang dingin. “I said enough. Kamu baca ngga sih omongan aku di chat kemarin? Aku mutusin kamu bukan cuma karena kamu selingkuh. Aku capek, Keenan. Capek sama kamu.”

Keenan menggeleng dengan gerakan pelan, menolak realitas yang ada di hadapannya. Tatapannya penuh keyakinan yang keras kepala. “No, please.. I can’t. Kamu bisa kasih aku satu kesempatan lagi, Noah. Aku beneran ngga bisa pisah dari kamu. Keluarga kamu juga udah tahu hubungan kita…”

Noah tertawa kecil, tapi nadanya getir. Senyum itu dingin dan penuh jarak. “Mereka ngga akan merasa dirugiin juga, K. They won’t give a damn.” Kalimat itu ia lontarkan dengan santai, seolah perasaan Keenan adalah omong kosong yang tak perlu dihiraukan.

“Lagian aku udah punya pacar. Dia sayang sama aku. Dia bisa jaga aku, dan tentunya dia ngga kayak kamu.” Noah menatap lurus ke mata Keenan, membiarkan kata-katanya menusuk tanpa ampun. “Kamu jahat sama aku.”

Seolah tidak peduli dengan ketegasan itu, Keenan dengan berani meraih kedua tangan Noah. Menggenggamnya dengan erat, penuh rasa putus asa yang menggema di suaranya. “Yakin dia sayang sama kamu? Aku udah cek semua tentang dia. Aku juga sempat stalk semua akun dia. Dan ngga ada tuh satu pun foto kamu di sana.” Keenan mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Beda sama aku, Noah. Aku selalu post foto kamu. Semua orang tau kalo kamu itu bagian dari hidup aku.”

Detik itu, rasa panas menyelimuti tubuh Noah. Bukan panas karena sakit hati, tpi karena amarah yang membakar. Bukan tentang bagaimana Raja tidak memajang fotonya di media sosial, tapi karena Keenan berani merendahkan seseorang yang ia cintai— seseorang yang jauh lebih baik dari orang yang kini berdiri di hadapannya.

Dengan sekuat tenaga, Noah berusaha melepaskan cengkeraman tngan Keenan di pergelangannya. Jemarinya menggeliat, menolak, tetapi cengkeraman itu seperti belenggu. “Lepas.” suaranya tegas, penuh kemarahan yang tertahan.

Keenan tetap kukuh. Matanya menatap Noah dengan kepedihan yang membara, tetapi suaranya penuh keposesif-an yang mengerikan. “Dia ngga sayang kamu, Noah. Dia cuma main-main sama kamu. Please, kasih aku satu kesempatan lagi, No—”

Bugh.

Kata-katanya terpotong. Sebuah tinju melayang cepat dan keras menghantam rahangnya, membuat kepalanya terhempas ke samping.

“Dia bilang lepas, brengsek. Lu tuli?” Suara berat dan tajam itu mengiris malam yang dingin.

Noah terperanjat, menoleh cepat, dan di sana berdiri Raja. Mata Raja menyala penuh amarah, rahangnya mengeras, seolah seluruh tubuhnya adalah bara yang siap meledak.

Tangan kokohnya sudah meraih kerah Keenan, menariknya dengan cengkraman yang begitu kuat hingga napas Keenan tertahan sesaat. Tatapan Raja seperti tantangan yang tak terbantahkan seolah siapa pun yang berani menantangnya, hanya akan mundur dengan luka.

Keenan mendengus, bahkan di bawah cengkeraman Raja. Dengan ekspresi meremehkan, ia meludah ke samping, membersihkan sisa darah di bibirnya. “Pahlawan kesiangan” gumamnya dengan nada mengejek. “Dari tadi ke mana aja, hah?” Suaranya tiba-tiba meledak. “GUA TANYA, DARI TADI LU KEMANA AJA, BRENGSEK?!”

Tanpa menunggu balasan, Keenan memberontak. Ia menarik dirinya dengan kekuatan penuh dan melayangkan pukulan ke rahang Raja, membuat Raja terdorong mundur beberapa langkah, hampir jatuh. Gigi Raja terkatup erat, napasnya memburu, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Keenan maju lagi, cengkeramannya kini berbalik mencengkram kerah Raja. Matanya membara dengan emosi yang sudah meluap, terlalu lama tertahan. “Ini pacar yang katanya sayang?” suaranya penuh sinis dan amarah. “Lu sadar ngga, Noah kesepian dari tadi? Lu sadar ngga dia ninggalin cafe itu karena ngga ada yang nemenin dia? Dan lu, pacarnya, harusnya lu disana, TEMENIN DIA ANJING!”

Amarah Keenan meledak karena cinta yang masih membakar hatinya—cinta yang tak bisa ia lepaskan. Pandangannya penuh luka, melihat Noah, orang yang ia anggap rumah, merasa terbuang dan sendirian seperti anak kucing terlantar. Perasaannya yang hancur membawanya ke titik di mana ia tak lagi peduli seberapa jauh ia melanggar batas.

Noah mendengar semua kata-kata Keenan seperti duri yang mencoba menusuk pertahanan dirinya, namun ia menggeleng pelan, menolak mempercayai apa pun yang keluar dari mulut pria itu. Dengan hati-hati, ia menarik Raja sedikit menjauh, jarinya yang dingin menggenggam lengan kekasihnya seolah ingin meredam api yang membara di dadanya.

“Kakak, udah..” bisiknya lemah, suaranya bergetar, seolah takut jika Keenan akan menghancurkan lebih dari sekadar malam ini—takut ia akan meretakkan apa yang telah mereka perjuangkan.

Raja yang masih terengah, dadanya naik-turun karena emosi yang membakar napasnya, perlahan mengendurkan genggamannya. Tatapan tajamnya yang penuh amarah melembut begitu menyentuh mata Noah. Seolah seluruh dunia menghilang, ia menangkup pipi Noah dengan kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam dengan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.

“You okay?” suaranya pelan, penuh perhatian, meski getaran kecil masih tersisa.

Noah hanya mengangguk pelan, matanya yang berkabut bertemu dengan tatapan lembut Raja.

Lalu Raja menarik napas dalam, menundukkan kepala sedikit. “Maaf, ya?” katanya dengan suara rendah, penuh ketulusan. “Aku malah sibuk sama anak-anak dan gada buat kamu tadi. Dia bener, kamu tanggung jawab aku, ngga seharusnya aku ninggalin kamu sendirian kaya tadi.”

Noah mengatupkan bibirnya, sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia mengangkat tangan dan menyentuh jemari Raja di pipinya. “It’s okay kakak.. ngga apa-apa…” bisiknya, meski hatinya masih sedikit bergetar. “Aku tau kok kakak emang lagi sibuk, maaf juga ya kak karna tadi main pergi aja..”

Raja mengangguk pelan, menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan Noah. Ia mengerti bagaimana kesal dan kecewanya Noah saat ia terlalu asyik dengan teman-temannya tadi, lupa memberi perhatian yang seharusnya Noah dapatkan.

Keenan berdiri mematung, rasa sakit di rahangnya nyaris terlupakan oleh pemandangan yang ada di hadapannya. Ia menyaksikan bagaimana Raja menangkup wajah Noah dengan kedua tangannya, lembut seolah dunia yang mereka tempati hanya milik mereka berdua. Suara Raja, meski tak jelas terdengar dari tempat Keenan berdiri, dipenuhi kehangatan yang tak pernah bisa ia tiru, bukan dengan Noah, dan bukan dengan siapa pun.

Matanya terfokus pada bagaimana Noah menatap Raja, tatapan yang penuh percaya, seperti semua rasa cemas dan takut yang tadi tergambar jelas di wajahnya lenyap begitu saja hanya karena satu sentuhan dari pria itu.

‘He seems safe now—with him. Not with me.

Ia mengertakkan giginya, berusaha menahan semua rasa yang berkecamuk di dadanya. Tetapi apa pun yang tersisa dari keyakinannya kini hanya abu. Ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Noah tidak akan pernah menerima-nya kembali seperti sebelumnya.

Untuk sesaat, hanya keheningan yang mengisi jarak di antara mereka.

Malam yang dingin menjadi saksi dari sepasang hati yang berusaha saling menyembuhkan—satu dengan cinta yang tak tergoyahkan, dan satu dengan harapan yang masih belajar untuk percaya.

—written by ca’jaemturii.

#Him again?

cw// Fighting, blood.

Noah merasakan tarikan kuat di pergelangan tangannya, tubuhnya terhuyung ke belakang. Refleks pertahanan diri yang tertanam selama bertahun-tahun langsung bangkit tanpa bisa ia tahan. Ia memutar tubuh dengan cepat, tinjunya melayang ke arah wajah orang yang menahannya.

Bugh.

Terdengar suara pukulan yang keras dan berat. Sosok di depannya mundur selangkah, mengangkat tangan ke pipi yang memerah.

Noah terengah-engah, matanya membelalak melihat hasil pukulannya. Seketika ia terpaku, tubuhnya kaku seperti membeku. “Keenan?”

Keenan mendongak perlahan, wajahnya setengah meringis sambil memegangi rahangnya. Tatapan matanya penuh rasa sakit yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan, tetapi ia masih sempat membenarkan topi yang hampir jatuh dari kepalanya. Ia menyeringai kecil, ujung bibirnya berdarah, jarinya menyentuh tetes merah itu seolah-olah menganggap itu hal sepele, seperti pria yang menertawakan rasa sakitnya sendiri. “Hey, it’s me… again.”

Noah mundur selangkah, memperlebar jarak di antara mereka. Ia menatap Keenan dengan tatapan tajam penuh kekesalan, “Mau apa lagi, sih? Jadi selama ini, aku ngerasa diikutin kemana-mana, itu ulah kamu?” Nada suaranya meninggi, tegas dan penuh tuntutan.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan yang sama yang terus bergema, ‘Bukankah kemarin semuanya sudah jelas? Ia sudah mengakhiri semuanya, tidak ada lagi ruang untuk masa lalu yang menyakitkan itu.’

“Hey.. hey, dengerin aku dulu, Noah…” Keenan melangkah maju sedkit, tangannya terangkat pelan seolah mencoba meredakan suasana. Suaranya rendah dan lembut, seperti bisikan dari memori yang pernah membuat Noah lemah. “Aku tahu kesalahan aku udah bikin kamu kecewa. But trust me… I’ll change, okay? For you.”

Noah menggeleng pelan, matanya penuh penolakan yang dingin. “I said enough. Kamu baca ngga sih omongan aku di chat kemarin? Aku mutusin kamu bukan cuma karena kamu selingkuh. Aku capek, Keenan. Capek sama kamu.”

Keenan menggeleng dengan gerakan pelan, menolak realitas yang ada di hadapannya. Tatapannya penuh keyakinan yang keras kepala. “No, please.. I can’t. Kamu bisa kasih aku satu kesempatan lagi, Noah. Aku beneran ngga bisa pisah dari kamu. Keluarga kamu juga udah tahu hubungan kita…”

Noah tertawa kecil, tapi nadanya getir. Senyum itu dingin dan penuh jarak. “Mereka ngga akan merasa dirugiin juga, K. They won’t give a damn.” Kalimat itu ia lontarkan dengan santai, seolah perasaan Keenan adalah omong kosong yang tak perlu dihiraukan.

“Lagian aku udah punya pacar. Dia sayang sama aku. Dia bisa jaga aku, dan tentunya dia ngga kayak kamu.” Noah menatap lurus ke mata Keenan, membiarkan kata-katanya menusuk tanpa ampun. “Kamu jahat sama aku.”

Seolah tidak peduli dengan ketegasan itu, Keenan dengan berani meraih kedua tangan Noah. Menggenggamnya dengan erat, penuh rasa putus asa yang menggema di suaranya. “Yakin dia sayang sama kamu? Aku udah cek semua tentang dia. Aku juga sempat stalk semua akun dia. Dan ngga ada tuh satu pun foto kamu di sana.” Keenan mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Beda sama aku, Noah. Aku selalu post foto kamu. Semua orang tau kalo kamu itu bagian dari hidup aku.”

Detik itu, rasa panas menyelimuti tubuh Noah. Bukan panas karena sakit hati, tpi karena amarah yang membakar. Bukan tentang bagaimana Raja tidak memajang fotonya di media sosial, tapi karena Keenan berani merendahkan seseorang yang ia cintai— seseorang yang jauh lebih baik dari orang yang kini berdiri di hadapannya.

Dengan sekuat tenaga, Noah berusaha melepaskan cengkeraman tngan Keenan di pergelangannya. Jemarinya menggeliat, menolak, tetapi cengkeraman itu seperti belenggu. “Lepas.” suaranya tegas, penuh kemarahan yang tertahan.

Keenan tetap kukuh. Matanya menatap Noah dengan kepedihan yang membara, tetapi suaranya penuh keposesif-an yang mengerikan. “Dia ngga sayang kamu, Noah. Dia cuma main-main sama kamu. Please, kasih aku satu kesempatan lagi, No—”

Bugh.

Kata-katanya terpotong. Sebuah tinju melayang cepat dan keras menghantam rahangnya, membuat kepalanya terhempas ke samping.

“Dia bilang lepas, brengsek. Lu tuli?” Suara berat dan tajam itu mengiris malam yang dingin.

Noah terperanjat, menoleh cepat, dan di sana berdiri Raja. Mata Raja menyala penuh amarah, rahangnya mengeras, seolah seluruh tubuhnya adalah bara yang siap meledak.

Tangan kokohnya sudah meraih kerah Keenan, menariknya dengan cengkraman yang begitu kuat hingga napas Keenan tertahan sesaat. Tatapan Raja seperti tantangan yang tak terbantahkan seolah siapa pun yang berani menantangnya, hanya akan mundur dengan luka.

Keenan mendengus, bahkan di bawah cengkeraman Raja. Dengan ekspresi meremehkan, ia meludah ke samping, membersihkan sisa darah di bibirnya. “Pahlawan kesiangan” gumamnya dengan nada mengejek. “Dari tadi ke mana aja, hah?” Suaranya tiba-tiba meledak. “GUA TANYA, DARI TADI LU KEMANA AJA, BRENGSEK?!”

Tanpa menunggu balasan, Keenan memberontak. Ia menarik dirinya dengan kekuatan penuh dan melayangkan pukulan ke rahang Raja, membuat Raja terdorong mundur beberapa langkah, hampir jatuh. Gigi Raja terkatup erat, napasnya memburu, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Keenan maju lagi, cengkeramannya kini berbalik mencengkram kerah Raja. Matanya membara dengan emosi yang sudah meluap, terlalu lama tertahan. “Ini pacar yang katanya sayang?” suaranya penuh sinis dan amarah. “Lu sadar ngga, Noah kesepian dari tadi? Lu sadar ngga dia ninggalin cafe itu karena ngga ada yang nemenin dia? Dan lu, pacarnya, harusnya lu disana, TEMENIN DIA ANJING!”

Amarah Keenan meledak karena cinta yang masih membakar hatinya—cinta yang tak bisa ia lepaskan. Pandangannya penuh luka, melihat Noah, orang yang ia anggap rumah, merasa terbuang dan sendirian seperti anak kucing terlantar. Perasaannya yang hancur membawanya ke titik di mana ia tak lagi peduli seberapa jauh ia melanggar batas.

Noah mendengar semua kata-kata Keenan seperti duri yang mencoba menusuk pertahanan dirinya, namun ia menggeleng pelan, menolak mempercayai apa pun yang keluar dari mulut pria itu. Dengan hati-hati, ia menarik Raja sedikit menjauh, jarinya yang dingin menggenggam lengan kekasihnya seolah ingin meredam api yang membara di dadanya.

“Kakak, udah..” bisiknya lemah, suaranya bergetar, seolah takut jika Keenan akan menghancurkan lebih dari sekadar malam ini—takut ia akan meretakkan apa yang telah mereka perjuangkan.

Raja yang masih terengah, dadanya naik-turun karena emosi yang membakar napasnya, perlahan mengendurkan genggamannya. Tatapan tajamnya yang penuh amarah melembut begitu menyentuh mata Noah. Seolah seluruh dunia menghilang, ia menangkup pipi Noah dengan kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam dengan rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.

“You okay?” suaranya pelan, penuh perhatian, meski getaran kecil masih tersisa.

Noah hanya mengangguk pelan, matanya yang berkabut bertemu dengan tatapan lembut Raja.

Lalu Raja menarik napas dalam, menundukkan kepala sedikit. “Maaf, ya?” katanya dengan suara rendah, penuh ketulusan. “Aku malah sibuk sama anak-anak dan gada buat kamu tadi. Dia bener, kamu tanggung jawab aku, ngga seharusnya aku ninggalin kamu sendirian kaya tadi.”

Noah mengatupkan bibirnya, sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia mengangkat tangan dan menyentuh jemari Raja di pipinya. “It’s okay kakak.. ngga apa-apa…” bisiknya, meski hatinya masih sedikit bergetar. “Aku tau kok kakak emang lagi sibuk, maaf juga ya kak karna tadi main pergi aja..”

Raja mengangguk pelan, menyadari sepenuhnya apa yang dirasakan Noah. Ia mengerti bagaimana kesal dan kecewanya Noah saat ia terlalu asyik dengan teman-temannya tadi, lupa memberi perhatian yang seharusnya Noah dapatkan.

Keenan berdiri mematung, rasa sakit di rahangnya nyaris terlupakan oleh pemandangan yang ada di hadapannya. Ia menyaksikan bagaimana Raja menangkup wajah Noah dengan kedua tangannya, lembut seolah dunia yang mereka tempati hanya milik mereka berdua. Suara Raja, meski tak jelas terdengar dari tempat Keenan berdiri, dipenuhi kehangatan yang tak pernah bisa ia tiru, bukan dengan Noah, dan bukan dengan siapa pun.

Matanya terfokus pada bagaimana Noah menatap Raja, tatapan yang penuh percaya, seperti semua rasa cemas dan takut yang tadi tergambar jelas di wajahnya lenyap begitu saja hanya karena satu sentuhan dari pria itu.

‘He seems safe now—with him. Not with me.

Ia mengertakkan giginya, berusaha menahan semua rasa yang berkecamuk di dadanya. Tetapi apa pun yang tersisa dari keyakinannya kini hanya abu. Ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Noah tidak akan pernah menerima-nya kembali seperti sebelumnya.

Untuk sesaat, hanya keheningan yang mengisi jarak di antara mereka.

Malam yang dingin menjadi saksi dari sepasang hati yang berusaha saling menyembuhkan—satu dengan cinta yang tak tergoyahkan, dan satu dengan harapan yang masih belajar untuk percaya.

—written by ca’jaemturii.